Diberdayakan oleh Blogger.
 
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 April 2012

Cara Mudah Jadi Peternak Domba dan Kambing

0 komentar

Walau sudah banyak yang terjun dan merasakan manisnya bisnis peternakan domba-kambing, namun peluang bisnis di dunia peternakan masih terbuka lebar. Tentu jika ingin eksis di dunia bisnis peternakan maka harus memiliki ilmu peternakan dan menguasai ceruk pasar. Sehingga kita akan ikut merasakan betapa manisnya bisnis peternakan domba kambing, semanis dagingnya.

Lalu bagaimana dengan orang yang ingin terjun di bisnis peternakan domba-kambing, namun belum menguasai ilmu peternakan. Berikut adalah beberapa langkah yang harus dilakukan:

Langkah pertama, mampunyai modal yang cukup. Langkah kedua adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang teknis beternak yang baik, hal ini bisa dilakukan dengan membaca buku dan artikel tentang peternakan dan mengikuti pelatihan peternakan.

Dengan membaca buku atau artikel, kita akan memperoleh wawasan yang luas tentang peternakan, apalagi dengan adanya layanan google.com (mesin pencari), kita tinggal menulis keywords tentang peternakan dan google akan mencarikan artikel yang diinginkan. Walau biaya ini cukup murah namun, aktivitas ini hanya bersifat satu arah, kita tidak bisa melakukan diskusi atau mengajukan pertanyaan tentang permasalahan yang dihadapi.

Berbeda dengan mengikuti pelatihan peternakan, dengan mengikuti langkah ini peserta akan mendapat materi teori dan praktek langsung sehingga akan terjalin komunikasi dua arah. Walau harus mengeluarkan investasi yang terkadang tidak sedikit, namun akan berbanding lurus dengan materi yang diterima. 

Seperti yang dilakukan Maulana Yusuf, untuk mendapat ilmu yang cukup tentang teknis beternak Dia mengikuti pelatihan aplikatif usaha ternak domba dan kambing. Pria asal Kreo Tangerang mengaku, motivasi mengikuti pelatihan peternakan domba-kambing adalah ingin belajar mendalam tentang ilmu peternakan. Setelah bekal ilmu yang cukup Dia ingin membuka usaha yang bisa menciptakan lapangan bekerjaan,  “Saya ingin menggeluti dengan profesional dan berkah. Jangan sampai mengawali usaha dengan ilmu dari nol,” ujar Yusuf.

Saat ini, Yusuf bekerja di bagian keuangan pada perusahaan swasta dibidang IT dan Teleco. Setelah mendapat skill tentang mengelola ternak,  Dia mengaku sedang transisi untuk beralih fokus pada usaha ternak kambing perah, karena belum banyak yang menggeluti dan pemasarannya pun terbuka luas. 

Menurutnya, selama pelatihan banyak ilmu baru yang didapat. Harapannya apa yang teknis baik teori dan praktek bisa diterapkan. Karena itu, kira-kira pertengahan tahun depan, Dia memberanikan diri untuk memulai usaha kambing perah. 

Yuyu Rahayu,  Manajer Pengembangan Bisnis Kampoeng Ternak mengatakan,  setiap tiga bulan sekali Kampoeng Ternak mengadakan pelatihan ternak yang ditujukan bagi perorangan, lembaga atau perusahaan yang tertarik memberikan pembekalan usaha ketrampilan kepada karyawannya untuk menghadapi masa pensiun. Untuk memperoleh hasil yang optimal, setiap angkatan hanya dibatasi maksimal 15 peserta. Bila berlebih akan dibuatkan jadwal pelatihan tambahan pada bulan berikutnya.

 “Selain teori, para peserta juga langsung praktek dilakukan di alam terbuka di lokasi peternakan domba kambing,  serta kunjungan ke lokasi peternak sukses,” kata Yuyu. Dia berharap, setelah mengikuti pelatihan ini peserta diharapkan memiliki kemampuan manajemen dan keterampilan teknis dalam mengelola Peternakan Domba Kambing. 

Selamat mencoba. Wallahu a’lam. [abuhyl]
Read more...

Paniran, Merubah Kambing Kudisan Jadi Bernilai

0 komentar

TUBAN – Kebanyakan peternak mungkin enggan untuk membeli atau memelihara kambing yang kudisan, tapi bagi Paniran (45 thn), kambing yang kudisan justru bernilai ekonomis. Karena, Dia tidak perlu merogoh uang banyak untuk membeli kambing kudisan. Menurutnya, kambing kudisan di pasar hanya dibandrol 100 ribu rupiah per ekor.

“Dalam dua bulan saya bisa mengumpulkan tiga kambing kudisan untuk diobati,” ujar Paniran saat dihubungi di rumahnya di Desa Temadang Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Rabu (14/03).

Paniran mengatakan, untuk mengobati kambing kudisan cukup diolesi dengan ivermectin pada bagian kulit yang kudisan, dan masa penyembuhannya hanya sebulan saja. Setelah kambing dinyatakan sembuh, Dia akan menjual kembali kambing di pasar dengan harga 600 ribu rupiah per ekor.

Dikatakannya, usaha ini baru dijalaninya sejak Februari lalu setelah melihat peluang pasar yang menguntungkan. Sebelumnya, keahlian mengobati kambing kudisan hanya dimanfaatkan untuk membantu kelompok peternak binaan yang kambingnya sakit.

“Pendamping Peternak juga menyarankan saya untuk memulai usaha mengobati kambing kudisan,” ujar suami Astuti ini.

Paniran menyatakan, keahlian mengobati kambing kudisan diperoleh setelah bergabung dalam kelompok peternak Gedung Sumber Makmur binaan Kampoeng Ternak Nusantara pada 2009 lalu. Dalam pertemuan kelompok yang diadakan sepekan sekali ini, Dia mendapat materi-materi peternakan yang mencakup pakan ternak, kandang, dan kesehatan ternak dan sebagainya.

“Dulunya saya peternak sapi, tapi ingin mencoba ternak kambing. Dan ilmunya saya dapat setelah bergabung dengan kelompok binaan Kampoeng Ternak,” jelas Paniran.

Munir, Pendamping Peternak Kampoeng Ternak Tuban menambahkan, Paniran merupakan salah satu mitra binaan yang kooperatif dan rasa ingin tahunya besar. “Saat pertemuan kelompok, Dia tidak pernah sungkan bertanya, makanya cepat pinter,” imbuhnya.

Paniran tak mengenal hari libur, sehari-hari Paniran juga bekerja sebagai tukang ambil air untuk warung-warung atau dalam istilah masyarakat sekitar disebut “ngangsu”. Selepas Shubuh hingga pukul 9 pagi Paniran bergegas mengayuh becak untuk mengirim air ke 15 warung langganannya. Sekali angkut, Dia bisa membawa enam derigen.  “Satu becak itu bisa muat enam derigen dan dibayarnya 5 ribu rupiah,” kata pak paniran saat ditanya berapa harga air yang dibeli oleh pemilik warung.  Namun, lanjutnya, saat musim penghujan pemilik warung langganan tidak semua membeli air dagangannya, dan tidak sampai enam deligen.

Selain ngangsu, aktivitas ekonomi lain yang dilakukan oleh Paniran adalah ngojek. Tapi tidak dilakukan setiap hari, dan hanya dilakukan berdasarkan permintaan konsumen. Dari penghasilan ini, Dia bisa mengantongi uang anatar 40 ribu rupiah hingga 100 ribu rupiah. “Ya saya sih ngojek kalo ada yang manggil aja. Kalau dirata-rata, sepekan saya ngojek ya hanya dua kali,” ungkapnya.

Dari semua aktifitas usaha ini, Paniran bisa mengumpulkan uang hingga 2,41 juta rupiah per bulan. Namun penghasilan sebesar ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan semua peluang usaha yang Dia lakukan supaya bisa hidup mandiri dan bisa menyekolahkan kedua anaknya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMK dan kelas 1 SMK hingga bisa lulus sekolah. [abuhyl]
Read more...

Agus: Tak Ada Alasan untuk Menyerah

0 komentar

GARUT – Sakit paru-paru yang di derita Agus Kusnadi (44) sejak 2007 silam, membuatnya tidak mampu lagi mengendarai truk untuk mengantar barang-barang ke luar kota. Sejak itu, dia terpaksa meninggalkan pekerjaan yang digeluti selama puluhan tahun.

Setelah keluar dari pekerjaan yang menjadi penopang ekonomi keluarganya, suami dari Imas Awaliyah (40) ini nyaris tidak bekerja. Dia hanya pasrah bercampur bingung harus bekerja apa. Apalagi sebagai kepala keluarga , dia merasa bertanggung jawab untuk menafkahi istri dan ketiga anaknya yang masih kecil.

“Sebenarnya saya masih mau kerja, tapi kalau nyupir lagi sudah nggak kuat,” ujar pria yang tinggal di Kampung Sukalilah, Desa Sindang Galih, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Garut ini beberapa waktu lalu.

Karena tak cukup dana, Agus hanya rutin memeriksakan sakitnya ke Puskesmas terdekat untuk mendapat obat TB tiap bulan. Tetapi perawatan di Puskesmas ala kadarnya, sehingga belum sembuh seratus persen.

Dalam kebingungan mencari kerja, Agus mendapat informasi dari tetangganya bahwa di kampungnya akan ada Program Pemberdayaan Peternak dari Kampoeng Ternak Dompet Dhuafa. Kesempatan ini tidak ia sia-siakan. Tepat 2008 lalu Agus mendapat kesempatan menjadi mitra binaan Kampoeng Ternak dengan bergabung dalam Kelompok Galih Wesi Garut, dan mendapat lima ekor domba.

“Alhamdulillah bisa menjadi mitra Kampoeng Ternak. Kalau nyupir udah ngga kuat, tapi kalau sekedar nyambit rumput masih bisa. Dokter pun menyarankan agar badan kena sinar matahari. Dan mencari rumput sangat membantu aliran darah berjalan dengan baik,” ucap Agus penuh syukur.

Agus merasa, dengan menjaga amanah hewan ternak dari Kampoeng Ternak, hewan ternak terus bertambah dan usaha sang isti pun menjadi berkembang. Domba indukan pada beranak dan hasilnya bisa membantu biaya sekolah anak. Kemudian usaha istri juga berkembang karena banyak orderan seragam sekolah dan karyawan.

“Tidak ada alasan untuk menyerah,” pungkasnya. [abuhyl]
Read more...
Senin, 27 Juni 2011

Contoh Berita Feature: Selalu Bersyukur, Walau Dalam Keterbatasan

0 komentar

Saat kumandang azan Dhuhur bergema di langit Parung Bogor, seorang pria paruh baya bergegas meninggalkan perkebunan jambu  biji menuju rumah sederhana untuk sholat dan melepas lelah sejenak. Nampak wajah dan kaos biru yang melekat ditubuhnya dibasahi keringat karena udara siang itu begitu menyengat kulit.

Rupanya, Ajit (53) baru saja selesai menyemprot alang-alang di perkebunan jambu biji dengan luas 12 hektar yang tak jauh dari wilayah program Zona Madina milik Dompet Dhuafa. Sudah 11 tahun ini, Ajit bekerja sebagai penjaga perkebunan milik Bedu Amang, bekas Menteri Bulog era Soeharto. “Tugas saya merawat kebun, mencangkul, memangkas rumput dan memberi pupuk serta memanen buah,” ujar Ajit.

Di kebun yang ditanami 5,000 pohon jambu, 1,000 pohon jeruk dan 800 pohon belimbing itu hanya ditangani 10 orang. Ajit menceritakan, dulu  perawatan kebun sebenarnya dikerjakan oleh 23 orang. Namun kini sudah berkurang karena para pekerja harian kurang cocok dengan gaji yang diterima. Menurutnya, sejak beroperasi tahun 2000 hingga saat ini upah tenaga kerja harian tidak pernah naik dan hanya di gaji 20 ribu rupiah. “Tidak ada kenaikan gaji,” kata Ajit singkat.

Namun pria asli Cirebon ini lebih bersyukur, karena gaji harian yang diterimanya lebih besar dibanding rekan-rekan kerja lain. Aji bekerja dari pukul 08.00 – 16.00 WIB, dari pekerjaan yang menguras tenaga ini hanya dihargai 32,500 rupiah per hari. “Alhamdulillah, walau sering kekurangan saya tetap bersyukur atas rezeki yang didapat,” kata Ajit penuh syukur.

Ajit bekerja harian dari Senin hingga Sabtu, jika dikalkulasikan maka pendapatan rata-rata tiap bulan yang Ajit kantongi hanya 780 ribu rupiah. Padahal Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di Kabupaten Bogor mencapai Rp1,172,060, sesuai dengan penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jawa Barat tahun 2011.

“Walau digaji kecil, saya harus tetap bekerja karena kalau tidak masuk kerja, maka kasihan anak istri harus menahan lapar,” ungkap Ajit. Menurutnya, tiap hari harus mengeluarkan minimal uang 25 ribu rupiah untuk belanja beras satu liter dan belanja sayuran 20 ribu rupiah. Tapi kalau ditambah dengan biaya sekolah anak bisa lebih dari itu.

Di zaman ekonomi berbiaya tinggi, tentu pendapatan sebagai penjaga kebun tidak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi Ajit masih menanggung biaya sekolah Vina Agustina, anak kedua hasil pernikahan dengan Sa’diah (40) yang kini duduk di bangku kelas IV SD Jampang 5. Dia mengaku, penghasilan dari bekerja di kebun tidak cukup untuk sepekan, hampir tiap Jumat uang sudah habis. Sehinga seringkali dia menyuruh Vina untuk tidak masuk sekolah tiap Jumat, “Kalau tidak ada ongkos Vina harus jalan ke sekolah sejauh sekitar dua kilo meter,” ujarnya dengan nada sedih.

Walau dalam keterbatasan perekonomian keluarga, Ajit tetap bersabar dan menjalin hubungan baik dengan para tetangga, sehingga jika ada tetangga yang datang malam-malam minta jambu untuk obat tetap dilayaninya, “Kasihan mereka minta jambu untuk obat demam berdarah,” katanya.

Karena kebaikannya ini, dia dikenal banyak orang hingga lingkungan aparat desa. Suatu hari, pria yang pernah berjualan es buah ini mendapat kabar baik dari Anan Sugiono, Kepala Dusun RT 03/ RW 04 Kelurahan Jampang Parung Bogor, bahwa ada program pemberdayaan peternak dari Kampoeng Ternak Jejaring Dompet Dhuafa. Dan menyarankan Ajit untuk mendafar dalam program ini.

Ajit tidak menyiakan kesempatan baik ini, bergegas dia langsung mendaftar. Selama proses seleksi, Dia selalu mengikuti agenda rapat tiap pekan sekali dengan para penerima manfaat lainnya. Ajit mengungkapkan dalam rapat dibahas materi-materi skill seputar pemeliharaan dan perawatan domba/ kambing juga materi keagamaan, “Materi agama yang disampaikan sangat menyentuh hati, karena mengingatkan akan kebesaran dan kemurahan rezeki Allah SWT,” imbuhnya.

Saat ini, Ajit tergabung dalam kelompok Pulo Makmur yang terdiri dari enam penerima manfaat. Tepat  Maret 2011 Dia mendapat amanah untuk memelihara hewan terak sebanyak 10 ekor domba. Menurutnya, berhubungan dengan dunia kambing bukanlah hal yang asing, karena sejak kecil Ajit sudah terbiasa angon kambing milik almarhum ayahnya. “Jadi saya nggak kaget ngurusin domba,” pungkasnya.

Sejak menerima amanah hewan ternak, Ajit harus membagi waktu dengan pekerjaan utamanya sebagai penjaga kebun. “Kalau pagi saya ngurusin kebun dulu, kemudian sekitar jam dua siang saya ngarit (mencari rumput) di sekitar kebun,” ujarnya. Ajit kembali bersyukur karena disekitar rumahnya yang tak jauh dari area perkebunan jambu biji terbentang rerumputan hijau, “Jadi ngga susah mencari rumput untuk makan para domba,” ucapnya.

Untuk memenuhi pakan 10 ekor domba, tiap hari Ajit harus menyediakan sekurangnya lima karung besar yang berisi rumput hijau. Dia berbagi pengalaman, menurutnya kalau mau ngarit jangan pas pagi karena embun masih menempel di rerumputan.  Jika embun masih menempel di rumput kemudian langsung di makan domba bisa menyebabkan cacingan. “Karena itu, saya kalau ngarit diatas jam dua belas siang,” katanya.

Walau rumput terbentang luas di area perkebunan, Ajit mengaku belum pernah melepas domba ternaknya untuk mencari rumput  sendiri. Dia khawatir kalau di angon para bandot akan berantem yang bisa menyebabkan tanduk rusak atau patah sehingga jika nanti kalau dijual hargnya menjadi rendah.

Untuk merawat domba, Ajit juga rajin memandikan para domba dengan harapan dapat tidak dihinggapi penyakit. Menurutnya, sebelum dimandikan, tubuh domba terlebih dahulu digosok dengan daun pinang untuk membunuh kuman yang menempel di kulit domba. “Selain itu juga diberi vitamin dan obat mencret.”

Ajit berharap, dalam proses penggemukan domba berjalan lancar dan keuntungan dari penjualan domba nantinya dapat membantu menutupi kebutuhan keluarga. “Yang penting waras selamet, cukup untuk makan walau hanya dengan lauk teri,” ucap Ajit penuh syukur.***[cip]


Read more...

Entri Populer

 
News & Artikel Abu Hylmi © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here