Diberdayakan oleh Blogger.
 
Tampilkan postingan dengan label kambing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kambing. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 April 2012

Daun Katuk Tingkatkan Produksi Susu Kambing

0 komentar

SAWANGAN – Selain memperlancar dan meningkatkan produksi air susu ibu (ASI), ternyata daun katuk yang populer sebagai sayur ini juga bisa untuk meningkatkan produksi susu kambing. Menurut Bangun Dioro, pemilik Bangun Karso Farm (BKF), daun katuk yang dicampur dengan pepaya dan kedelai kemudian direbus dengan air dapat meningkatkan produksi susu kambing.

“Komposisinya, daun katuk jumlahnya dua unting, dan pepaya serta kedelai satu gelas (sekitar 1 ons) kemudian direbus dengan air,” jelas Bangun saat dihubungi di Desa Palasari, Cijeruk, Bogor, Selasa (3/4).

Berdasarkan genetika, kambing Sanen yang diberi minum ramuan daun katuk dapat meningkatkan  produksi susu hingga satu liter, sementara kambing etawa bisa meningkat hingga 0,3 liter.
“Kambing yang tidak diberi minuman ramuan daun katuk produksi susunya hanya 2,5 liter per hari. Namun setelah diberi minuman produksi susu kambing meningkat menjadi 3,5 liter per hari,” ujar pria yang masih aktif di TNI-AD ini.

Bangun menjelaskan, tiap kambing cukup diberi minum sehari sekali. Dan waktu memberi minum sekitar pukul 12.00 siang. “Airnya diminumkan kaya bikin tegean,” ungkap mitra usaha Kampoeng Ternak ini.

Hingga kini, racikan minuman hasil temuannya masih efektif untuk meningkatkan produksi susu. Dan berdasarkan hitungan usaha pun bisa menutupi biaya pokok. Namun, sejak bulan lalu harga daun katuk menjadi mahal sekira Rp 5 ribu per kilo. “Sebelumnya saya beli daun katuk ke tetangga, namun karena harganya naik, maka saya taman sendiri saja,” imbuh Bangun. [abuhyl]
Read more...

Ade, 'Dokter' Lulusan SD

0 komentar

SUMEDANG - Untuk menjadi seorang dokter hewan, biasanya harus menempuh kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dahulu, kemudian  ditambah dengan praktek yang menjadi kurikulum ilmu kedokteran. Setelah semua proses dilakukan, maka seorang tersebut dapat disebut seorang dokter.  Namun, hal itu berbeda dengan ‘dokter’ ternak yang menjadi kader di program pemberdayaan Kampoeng Ternak, tak harus menempuh kuliah kedokteran dahulu. 

Seperti Ade Suryana (42 thn), bergabung dengan kelompok ternak di Sumedang sekitar tujuh bulan lalu. Baginya, beternak sudah menjadi hobi sejak kecil. “Sejak kecil, saya hobi dengan ternak” kata pria lulusan SD ini. 

Dikatakannya, Dia mendapat ilmu tehnik kesehatan ternak saat mengikuti pelatihan tehnik beternak yang diselenggarakan oleh Kampoeng Ternak dan berbagi ilmu dengan pendamping peternak. Dan kini ilmu tehnik kesehatan ternak yang dimilikinya sangat bermanfaat untuk membantu masyarakat yang ternaknya mengalami sakit. “Saat ternak penduduk sakit, saya sering di kontak warga.  Tergantung siapa yang dekat dan ada di rumah,” ungkap Ade. 

Dengan keahliaan yang dimilikinya, ‘dokter’ domba ini memberikan pengobatan kepada ternak yang sedang sakit. “Alhamdlillah, sembuh,” ujar Ade singkat. Maka   tak aneh, jika banyak masyarakat yang percaya dengan kemampuan para ‘dokter’ domba ini.

Ade mengaku, tak pernah membayangkan akan menjadi ‘dokter’ domba keliling mewakili kelompoknya.  Bapak yang hidup sederhana ini, hanya senang membantu masyarakat dan terbisa mencintai profesi sebagai peternak.  Satelah bergabung dengan kelompok dampingan Kampoeng Ternak, Dia mendapatkan segalanya.  Mulai dari cara beternak, memilih bibit, memilih pakan sehat untuk ternak, perawatan hingga tindakan penanganan kesehatan saat ternak sakit.  Keberanian dan keuletan menjadikannya mampu memberikan pengobatan dengan baik.

Selain Ade, kader peternak yang menjadi ‘dokter’ lainnya adalah Ujang Rukmana (51 thn).  Pria berpendidikan SD ini tinggal di Desa Taman Sari. Sebuah desa yang jauh dari kota, dan jalan utama di desa itu hanya cukup untuk satu mobil.  Dengan topograpi perbukitan, menjadikan siapa saja enggan berkunjung.

Saat ini, Ade dan Ujang tidak hanya menjadi ‘dokter’ ternak dari 60 mitra, tetapi menjadi ‘dokter’ panggilan bagi seluruh penduduk yang masyotitas peternak di wilayah Sumedang dan sekitarnya.
Ade dan Ujang bukanlah satu satunya kader lokal yang dengan pendidikan terbatas mampu menjadi ‘dokter’ ternak bagi masyarakat. Hampir disetiap titik lokasi dampingan, Kampoeng Ternak selalu memberikan standar pelatihan yang sama. Dan hasilnya, terdapat kader yang mampu mengani pertolongan pertama jika ternak mereka sakit.

Pada tahun 2008, Kampoeng Ternak melakukan program sertifikasi kader teknis ternak. Yang terdiri bidang veteriner (kesehatan an teproduksi) dan kader teknis dalam perbibitan.  Sebanyak  21 Kader yang telah disertifikasi, saat ini Kampoeng ternak telah mencetak lebih dari 150 kader seperti pak Ade.  Bukan bermaksud menggantikan peran mantri hewan, tetapi sebagai tenaga relawan yang melakukan pertolongan pertama, terutama dilokasi yang jarang dikunjungi mantri hewan.

“Kami senang, ilmu yang saya pelajari dari Kampoeng Ternak bermanfaat bagi warga, kadang saya dipangggil layaknya dokter, malam hari warga mengadu dombanya sakit” imbuh Ade. [abuhyl]
Read more...

Paniran, Merubah Kambing Kudisan Jadi Bernilai

0 komentar

TUBAN – Kebanyakan peternak mungkin enggan untuk membeli atau memelihara kambing yang kudisan, tapi bagi Paniran (45 thn), kambing yang kudisan justru bernilai ekonomis. Karena, Dia tidak perlu merogoh uang banyak untuk membeli kambing kudisan. Menurutnya, kambing kudisan di pasar hanya dibandrol 100 ribu rupiah per ekor.

“Dalam dua bulan saya bisa mengumpulkan tiga kambing kudisan untuk diobati,” ujar Paniran saat dihubungi di rumahnya di Desa Temadang Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Rabu (14/03).

Paniran mengatakan, untuk mengobati kambing kudisan cukup diolesi dengan ivermectin pada bagian kulit yang kudisan, dan masa penyembuhannya hanya sebulan saja. Setelah kambing dinyatakan sembuh, Dia akan menjual kembali kambing di pasar dengan harga 600 ribu rupiah per ekor.

Dikatakannya, usaha ini baru dijalaninya sejak Februari lalu setelah melihat peluang pasar yang menguntungkan. Sebelumnya, keahlian mengobati kambing kudisan hanya dimanfaatkan untuk membantu kelompok peternak binaan yang kambingnya sakit.

“Pendamping Peternak juga menyarankan saya untuk memulai usaha mengobati kambing kudisan,” ujar suami Astuti ini.

Paniran menyatakan, keahlian mengobati kambing kudisan diperoleh setelah bergabung dalam kelompok peternak Gedung Sumber Makmur binaan Kampoeng Ternak Nusantara pada 2009 lalu. Dalam pertemuan kelompok yang diadakan sepekan sekali ini, Dia mendapat materi-materi peternakan yang mencakup pakan ternak, kandang, dan kesehatan ternak dan sebagainya.

“Dulunya saya peternak sapi, tapi ingin mencoba ternak kambing. Dan ilmunya saya dapat setelah bergabung dengan kelompok binaan Kampoeng Ternak,” jelas Paniran.

Munir, Pendamping Peternak Kampoeng Ternak Tuban menambahkan, Paniran merupakan salah satu mitra binaan yang kooperatif dan rasa ingin tahunya besar. “Saat pertemuan kelompok, Dia tidak pernah sungkan bertanya, makanya cepat pinter,” imbuhnya.

Paniran tak mengenal hari libur, sehari-hari Paniran juga bekerja sebagai tukang ambil air untuk warung-warung atau dalam istilah masyarakat sekitar disebut “ngangsu”. Selepas Shubuh hingga pukul 9 pagi Paniran bergegas mengayuh becak untuk mengirim air ke 15 warung langganannya. Sekali angkut, Dia bisa membawa enam derigen.  “Satu becak itu bisa muat enam derigen dan dibayarnya 5 ribu rupiah,” kata pak paniran saat ditanya berapa harga air yang dibeli oleh pemilik warung.  Namun, lanjutnya, saat musim penghujan pemilik warung langganan tidak semua membeli air dagangannya, dan tidak sampai enam deligen.

Selain ngangsu, aktivitas ekonomi lain yang dilakukan oleh Paniran adalah ngojek. Tapi tidak dilakukan setiap hari, dan hanya dilakukan berdasarkan permintaan konsumen. Dari penghasilan ini, Dia bisa mengantongi uang anatar 40 ribu rupiah hingga 100 ribu rupiah. “Ya saya sih ngojek kalo ada yang manggil aja. Kalau dirata-rata, sepekan saya ngojek ya hanya dua kali,” ungkapnya.

Dari semua aktifitas usaha ini, Paniran bisa mengumpulkan uang hingga 2,41 juta rupiah per bulan. Namun penghasilan sebesar ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan semua peluang usaha yang Dia lakukan supaya bisa hidup mandiri dan bisa menyekolahkan kedua anaknya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMK dan kelas 1 SMK hingga bisa lulus sekolah. [abuhyl]
Read more...

Entri Populer

 
News & Artikel Abu Hylmi © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here