DheTemplate Blogger Template
Pre Live Mag Blogger Template
whitePress Blogger Template
Poster Inc Blogger Template
DheTemplate - Free Blogger Templates Everyday
Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros...More
Pre Live Mag Blogger Template
Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam...More
whitePress Blogger Template
Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros...More
Poster Inc Blogger Template
Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam...More
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Selasa, 12 Februari 2013
Media Sosial Sebagai Penyeimbang Berita
Categories :
Perkembangan
teknologi komunikasi dan informasi dewasa ini telah ‘memaksa’ industri
komunikasi untuk menggabungkan media konvensional dan teknologi komunikasi. Hal
itu bisa dilihat dari media cetak besar di Indonesia yang memanfaatkan
teknologi komunikasi dengan membuat portal berita online. Di dunia barat pun,
pengelola media konvensional sudah ketakutan karena media elektronik (internet)
sudah mengalahkan media cetak. Sampai-sampai di barat sana ada banyak koran
yang mulai bangkrut. Bahkan ada yang memprediksi, bahwa berita media cetak
mungkin suatu saat akan punah karena adanya berita media online yang lebih
cepat mengakses informasi.
Apalagi sejak mewabahnya
pengguna media sosial semacam facebook dan twitter. Tak hanya media online, pengguna media sosial juga berpacu meng-update konten akunnya. Pengguna media sosial seperti facebook dan twitter secara berulang dan berantai melakukan penyebaran berita hangat
terkait prahara politik secara massif dan cepat. Demikian pula dengan blogger,
dengan cepat mengutip atau sekedar meng-copy
paste berita “panas” dari media online untuk menaikkan kunjungan ke “lapak”
nya.
Sepertinya media sosial kini sudah
menjadi media alternatif untuk menyebarkan berita. Tidak hanya itu, media sosial saat ini juga menjadi penyeimbang bagi
media massa yang mendominasi isu pemberitaan yang muncul di masyarakat seperi
TV, Koran, Majalah, Radio dan Tabloid. Media sosial mampu menjadi penyeimbang
isu negatif bagi kelompok atau topik perbincangan yang santer di media
konvensional. Seperti halnya,
saat Metro TV beberapa waktu lalu menyiarkan berita bahwa
“Rohis Sarang Teroris” maka muncul
gerakan di dunia maya “1.000.000
Gerakan Tuntut Metro Tv Minta Maaf Kpd Rohis Se-Indonesia”. Kemudian dilanjutkan ke gerakan offline
dengan digelarnya aksi simpatik ribuan aktivis Rohis se-Indonesia yang menuntut
agar Metro TV minta maaf. Dari gerakan ini akhirnya mampu memaksa Metro TV minta
maaf kepada Rohis (kerohanian
islam, eskul tingkat SMP dan SMA), karena Metro TV terbukti ceroboh dan tidak mampu membuktikan keakuratan
data beritanya.
Kini, sebagian masyarakat khususnya daerah
perkotaan yang melek internet dan mudah mendapat akses berita mulai paham,
bahwa industri komunikasi di Indonesia saat ini dikuasi oleh pemimpin partai politik. Sebut
saja Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem adalah pemilik Metro TV dan Media
Indonesia beserta media onlinenya. Abu Rizal Bakrie, Ketua Umum Partai Golkar
adalah pemilik Viva Group (TV One, ANTV, dan vivanews.com). Sebagian masyarakat
pun bersyukur saat Harry Tanoe, pemilik MNC Group mengundurkan diri dari Partai
Nasdem, karena apa jadinya wajah media massa kita jika hampir semua media massa nasional dimonopoli
oleh pimpinan partai politik. Apalagi menjelang Pemilu 2014, apakah media massa
yang dikuasai pimpinan partai politik ini bisa adil dan obyektif dalam
menyajikan berita, khususnya yang terkait dengan isu politik?
Jika monopoli kepemilikan ini berkembang subur
di Indonesia dan suratkabar – suratkabar kuat berhasil mencapai status
monopolistik dalam kegiatan bisnis mereka, akankah dunia pers kita kehilangan
peranannya sebagai the fourth estate, pilar keempat, setelah tiga pilar
lainnya dalam demokrasi yaitu eksekutif, yudikatif, dan legislatif akhir –
akhir ini tidak bisa diandalkan? Secara historis, apalagi relevansinya di era
reformasi di Indonesia sekarang ini sangat besar, pers sebagai pilar keempat
sangat diharapkan untuk dapat menyuarakan keinginan rakyat, yaitu keinginan
untuk mencapai kehidupan demokratis yang sebenar – benarnya.
Obyektivitas
Berita
Bisakah masyarakat
percaya 100 persen
terhadap konten berita yang disajikan media mainstream? Kemudian menelan
mentah-mentah isi berita tersebut. Menurut saya, percaya 100 persen pada isi berita adalah
sesuatu yang berlebihan. Karena awak media juga kumpulan manusia, bukan seperti
malaikat yang jauh dari kesalahan dan nafsu. Jadi, dari sisi obyektivitas dan keakuratan berita memungkinkan ada
celah kesalahan dalam karya jurnalistik.
Menurut Hikmat
Kusumaningrat & Purnama Kusumaningrat dalam bukunya yang berjudul
“Jurnalistik, Teori dan Praktek” mengatakan, bagi seorang wartawan,
untuk menyusun sebuah laporan atau tulisan yang adil dan berimbang tidaklah
sesulit memelihara obyektivitas.
Yang dimaksud dengan sikap adil dan berimbang adalah bahwa seorang wartawan
harus melaporkan apa yang sesungguhnya terjadi. Unsur adil dan berimbang dalam
berita mungkin sama sulitnya untuk dicapai seperti juga keakuratan dalam
menyajikan fakta.
Keakuratan sesuatu fakta tidak selalu menjamin keakuratan arti. Fakta-fakta yang akurat yang dipilih atau
disusun secara longgar atau tidak adil sama menyesatkannya dengan kesalahan
yang sama sekali palsu. Dengan menyisipkan fakta-fakta yang tidak relevan atau
dengan menghilangkan fakta-fakta yang seharusnya ada di sana, pembaca mungkin
mendapat kesan yang palsu.
Setidaknya ini yang penulis
rasakan, ketika media – media mainstream memberitakan peristiwa yang berkaitan dengan Islam, Ormas Islam dan tokoh Islam terkesan
tidak adil (menyudutkan, diskriminatif, dan tendensius) dalam menyajikan isi
berita. Terkesan ummat Islam yang selalu dirugikan.
Misalnya, setiap ada berita penangkapan
terduga teroris, kebanyakan yang menjadi
sumber berita hanya dari pihak kepolisian dan Densus 88 atau pengamat yang sudah sefikroh dengan aparat polisi.
Sehingga dalam berita selalu disebutkan para terduga teroris ditembak mati
karena melawan atau membawa
senjata. Padahal para terduga
teroris ini belum dibuktikan di muka pengadilan, namun sudah keburu didor sama
Densus 88.
Media juga begitu semangat untuk mem-blouw up ‘wajah sangar’ FPI saat aksi sweeping
kemaksiatan. Sehingga
dikesankan FPI adalah organisasi anarkis. Tetapi apakah media mainstream
mau memberitakan ‘wajah ramah’ FPI, semisal aksi peduli laskar FPI saat banjir Jakarta kemarin?.
Atau media sangat membela aliran
– aliran sesat (Ahmadiyah, Syiah dll) saat ummat Islam marah atas penistaan
agama yang dilakukan mereka. Media hanya mengulas aliran sesat ini sebagai
pihak yang dizholimi oleh mayoritas Ummat Islam. Tanpa berita berimbang mengapa ummat Islam
marah terhadap kelompok aliran sesat tersebut.
Begitu juga yang terjadi beberapa
pekan ini, sejak ditangkapnya Lutfi
Hasan Ishaq (LHI) oleh KPK tanggal 30
Januari 2012, trend perbincangan tentang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melonjak tajam. Ini hampir
mendekati angka survei yang dilakukan oleh Win and Wise Communication yang
menemukan bahwa percakapan tentang PKS oleh warga di sosial media mencapai angka 1700
percakapan/menit.
Seperti diketahui, ketika berita penangkapan LHI muncul isunya ikut
ditangkap supir Mentan. Ternyata dibantah. Kemudian, yang mau disuap adalah
anggota Komisi IV DPR dari PKS. Sekarang jadi LHI yang jelas-jelas bukan di
Komisi IV tapi di Komisi I. Hingga sampai media seperti Okezone pun ikut
melakukan ketidakobyektifan berita, bahwa LHI ditangkap oleh KPK bersama seorang
wanita muda?
Membahas masalah berita tidaklah lengkap jika
tidak membahas juga apa yang disebut berita sensasi. Kita sering mendengar
orang berkata, “Ah, itu sih sensasi!” Memang, unsur jurnalistik yang paling
dikenal orang, bahkan orang awam sekalipun, adalah unsur sensasi itu. Menurut
Hikmat Kusumaningrat, perkataan sensasi yang berasal dari perkataan Inggris sensation,
dari kata sense, sudah cukup menggambarkan apa yang disebut berita sensasi,
yakni berita yang isinya, dan terutama cara mengemukakannya, terlalu didasarkan
pada keinginan untuk menarik perhatian, membangkitkan perasaan, emosi. Jadi
berita sensasi harus hebat, harus menimbulkan keheranan, ketakjuban, kengerian,
pendeknya harus meluapkan berbagai macam perasaan.
Dengan demikian, berita sensasi sedikit sekali
didasarkan pada nalar atau samasekali tidak didasarkan pada nalar yang sehat.
Penyeimbang Tirani
Informasi
Lalu bagaimana untuk menyeimbangkan pemberitaan media mainstream
yang terkadang tidak akurat 100 persen. Dan sering merugikan Ummat Islam?
Mengutip pernyataan Guru Besar
Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Atma Jayakarta, Alois A Nugroho yang dimuat
di Harian Kompas Kamis (7/2/2013), di halaman dua, mengungkapkan bahwa untuk
mengimbangi tirani informasi yang muncul menjelang dan selama pelaksanaan
pemilu 2014, masyarakat diminta menggunakan media sosial sebagai alat
penyebaran informasi pembanding.
Menurutnya, komunikasi lewat
media sosial juga bisa menghimpun gerakan civil society dalam isu
tertentu. Tapi harus diingat,
gerakan melalui media sosial hanya bisa efektif jika diikuti dengan gerakan offline.
Pada akhirnya, semua parpol perlu melihat fenomena sosial yang ada di
media sosial untuk berkaca diri dan mengatur strategi, tak semua kejadian buruk
yang menimpa parpol akan serta merta menjatuhkan parpol itu dalam seketika.
Ya, prahara politik PKS bisa jadi bukti, bagaimana media sosial mengalami
lalu lintas yang ramai oleh perbincangan politik yang membuat banyak orang bisa
terbuka untuk membedah sisi PKS dari seluruh penjuru angin. Baik pengkritik
maupun pendukung PKS di media sosial, terlihat secara massif
mengirimkan pesan atau isu melalui media sosial, yang membuat PKS dan kasusnya
menjadi topik terpopuler.***[cipto apa cipta].
Sudahkan Media Mainstream Memenuhi Unsur Layak Berita?
Categories :
berita . media massa . pks . unsur berita
Bisakah kita percaya 100 %
terhadap konten berita yang disajikan media mainstream? Kemudian menelan
mentah-mentah isi berita tersebut. Menurut saya, percaya 100 % isi berita
adalah sesuatu yang berlebihan. Karena awak media juga seperti kumpulan manusia,
bukan malaikat yang jauh dari kesalahan dan nafsu.
Bagi seorang wartawan, untuk
menyusun sebuah laporan atau tulisan yang adil dan berimbang tidaklah sesulit
memelihara OBYEKTIVITAS. Yang dimaksud dengan sikap adil dan berimbang adalah
bahwa seorang wartawan harus melaporkan apa yang sesungguhnya terjadi. Unsur adil
dan berimbang dalam berita mungkin sama sulitnya untuk dicapai seperti juga
keakuratan dalam menyajikan fakta.
Keakuratan sesuatu fakta tidak
selalu menjamin keakuratan arti. Fakta-fakta
yang akurat yang dipilih atau disusun secara longgar atau tidak adil sama
menyesatkannya dengan kesalahan yang sama sekali palsu. Dengan menyisipkan
fakta-fakta yang tidak relevan atau dengan menghilangkan fakta-fakta yang
seharusnya ada di sana, pembaca mungkin mendapat kesan yang palsu.
Setidaknya ini yang saya rasakan,
ketika media – media mainstream memberitakan kejadian yang berkaitan dengan
Islam atau Ormas Islam terkesan tidak adil (menyudutkan, diskriminatif, dan tendensius)
dalam menyajikan isi berita. Terkesan ummat Islam yang selalu dirugikan.
Sebut saja, saat penangkapan
teroris, yang menjadi sumber berita hanya dari pihak kepolisian dan densus 88 atau
pengamat yang sudah sefikrah dengan aparat polisi. Sehingga dalam berita selalu
disebutkan para terduga teroris ditembak mati karena melawan/ membawa senjata.
Media begitu semangat untuk
memberitakan ‘wajah sangar’ FPI saat aksi sweeping. Sehingga dikesankan FPI
adalah organisasi anarkis. Tetapi apakah media mainstream mau memberitakan ‘wajah
ramah’ FPI, semisal aksi peduli banjir Jakarta kemarin (setahu saja ga ada,
yang memberitakan media OL Islam saja).
Atau media sangat membela aliran –
aliran sesat (Ahmadiyah, Syiah dll) saat ummat Islam marah atas penistaan agama
yang dilakukan mereka. Media hanya mengulas aliran sesat ini sebagai pihak yang
dizholimi oleh mayoritas Ummat Islam. Sepertinya media-media ini ingin
mengesankan bahwa ummat Islam Indonesia tidak toleran. Dan itu sudah berhasil
lewat LSM – LSM liberal.
Koran sekelas KOMPAS pun sangat
tidak obyektif saat memberikan keterangan foto headline aksi pendukung Mursy. Masa Kompas hanya menulis “RATUSAN”
pendukung Mursy (ciuuus ratusan?). walau saya belum pernah ke Mesir, tapi saya
yakin jumlah pendukung Mursy tidak seperti yang disebutkan Kompas.
Begitu juga yang terjadi beberapa
pekan ini, sejak ditangkapnya LHI oleh KPK tanggal 30 Januari 2012, trend
perbincangan tentang PKS melonjak tajam. Ini hampir mendekati angka survei yang
dilakukan oleh Win and Wise Communication yang menemukan bahwa percakapan
tentang PKS oleh warga di sosial media mencapai angka 1700 percakapan/menit.
WOW.
Seperti yang disampaikan Ustadz Ika di milis ini bahwa, ketika
berita penangkapan muncul isunya ikut ditangkap supir Mentan. Ternyata
dibantah. Kemudian, yang mau disuap adalah anggota Komisi IV DPR dari PKS.
Sekarang jadi LHI yg jelas2 bukan di Komisi IV tapi di Komisi I.
(hehehe...wartawan juga seperti PKS bukan kumpulan malaikat).
Hingga sampai media seperti Okezone pun ikut melakukan
berita fitnah bahwa Ustad Luthfi ditangkap oleh KPK bersama seorang wanita
muda? (tuing..tuing).
Adapun media massa barat juga tak
jauh berbeda, unsur adil dan berimbang masih sulit ditemukan saat menampilkan
wajah islam sebagai teroris.
Lalu bagaimana untuk
menyeimbangkan pemberitaan media mainstream yang terkadang tidak akurat 100
persen. Dan sering merugikan Ummat Islam?
Mengutip pernyataan Guru Besar
Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Atma Jayakarta, Alois A Nugroho yang dimuat
di Harian Kompas Kamis (7/2/2013), di halaman dua, mengungkapkan bahwa untuk
mengimbangi tirani informasi yang muncul menjelang dan selama pelaksanaan
pemilu 2014, masyarakat diminta menggunakan media sosial sebagai alat
penyebaran informasi pembanding.
Media sosial saat ini menjadi
penyeimbang bagi media massa yang mendominasi isu pemberitaan yang muncul di
mayarakat seperi TV, Koran, Majalah, Radio dan Tabloid. Media sosial mampu
menjadi penyeimbang isu negatif bagi kelompok atau topik perbincangan yang
santer di media konvensional. “Bisa dikatakan informasi di media sosial bisa
dipakai untuk mengimbangi pemberitaan media massa.” Kata Alois. Dia
menambahkan, komunikasi lewat media sosial juga bisa menghimpun gerakan civil
society dalam isu tertentu.
“Tapi harus diingat, gerakan
melalui media sosial hanya bisa efektif jika diikuti dengan gerakan offline.” Ungkapnya.
Kita masih ingat, saat Metro TV
memberitakan bahwa “Rohis Sarang Teroris” muncul gerakan di FB “1.000.000 Gerakan Tuntut Metro Tv Minta Maaf Kpd Rohis
Se-Indonesia”. Dari gerakan ini mampu memaksa Metro TV minta maaf
kepada Rohis.
Akhirnya, mari kita ramaikan
media sosial (FB, Twiter, Blog, Kompasiana dll). Dengan pesan-pesan aksi
positif PKS. Karena yang dilakukan LHI tidak mencerminkan wajah PKS. Tapi seperti
yang diungkapkan Ustadz Hidayat Nur Wahid itu adalah urusan pribadi LHI.
“Berapa banyak kader PKS yang
menghafal al-Qur'an? Mengingatkan shalat Subuh di Masjid? Mendidik untuk baca
al-Qur'an setiap hari? Mau lihat PKS ya lihat perilaku kadernya. Itulah PKS
yang sebenarnya," jelas Ustadz Abdurrohim (anak Ustadz ABB) di
hidayatullah.com.
Mari kita sebarkan kebaikan dari
sisi positif PKS. [cipks].
Selasa, 19 Juni 2012
Mari Beristiqamah
Categories :
artikel . berita . cobaan . contoh features . istiqomah . jalan lurus
Zaman boleh berganti, waktu boleh berlalu. Tetapi, keimanan
harus tetap dalam hati hingga tiba waktunya pulang menghadap Ilahi. Tekanan
boleh muncul dari kiri kanan, paksaan boleh datang menantang, tapi keimanan
harus tetap dikedepankan.
Iman tidak boleh bengkok, rapuh, apalagi lenyap ditelan zaman. Iman harus tetap kuat, kokoh, dan eksis dalam menghadapi ujian, cobaan, tantangan, bahkan ancaman dan serangan. Dalam Islam, iman adalah perkara asasi. Ia lebih penting dari segala urusan penting manusia. Iman menjadi penentu diterima tidaknya segala kebaikan setiap insan. Tanpa iman segala amal baik tidak bernilai di sisi Allah. Dengan iman, sesederhana apa pun, segala amal baik akan mendapat balasan yang lebih baik (QS [16]: 97).
Dengan demikian tidak ada urusan yang paling mendasar, penting, dan utama bagi setiap Muslim selain menjaga kualitas iman dan senantiasa meningkatkannya.
Dari Abu Amr atau Abu Amrah Sufyan bin Abdullah, ia berkata, “Saya berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, tolong ajari saya suatu ucapan yang mengandung ajaran Islam dan saya tidak perlu lagi bertanya kepada siapa pun selain Anda’.” Rasulullah menjawab, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian bersikap istiqamah.” (HR Muslim).
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menjabarkan bahwa istiqamah adalah sikap konsisten dalam taat kepada Allah. Allah berfirman, “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu .…” (QS [11]: 112).
Hal inilah yang mendorong seorang Umar bin Khathab tetap dalam kesederhanaan sekalipun telah mengemban amanah sebagai seorang khalifah. Begitu pula halnya dengan Ali bin Abi Thalib yang tetap bahagia meskipun bekerja sebagai pengangkut air pada seorang majikan yang beragama Yahudi. Termasuk Sayyidah Fathimah, putri kesayangan Rasulullah SAW. Sebagai putri nabi, Fathimah tetap memilih hidup dengan usaha sendiri. Setiap hari Fathimah bekerja menggiling gandum hingga melepuh telapak tangannya.
Demikian pula halnya dengan Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda yang teguh memegang iman dalam situasi zaman yang penuh kejahiliyahan. Dalam situasi seperti itu, pemuda Ashabul Kahfi itu memohon keselamatan dan keteguhan iman (QS [18]: 10, 13, 14).
Semua itu dilakukan bukan karena mereka anti dunia, tetapi lebih karena ingin kedekatan hatinya kepada Allah SWT tidak terganggu (istiqamah). Dunia cukuplah bisa menegakkan tulang rusuk guna beribadah kepada-Nya, demikian salah satu pesan nabi.
Harta, tahta, dan wanita kadang membuat manusia tidak istiqamah dalam iman, seperti Qarun dan Tsa’labah. Demi dunia, keduanya rela melepas imannya. Padahal, balasan bagi Muslim yang istiqamah adalah surga.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS [46]: 13, 14).
Iman tidak boleh bengkok, rapuh, apalagi lenyap ditelan zaman. Iman harus tetap kuat, kokoh, dan eksis dalam menghadapi ujian, cobaan, tantangan, bahkan ancaman dan serangan. Dalam Islam, iman adalah perkara asasi. Ia lebih penting dari segala urusan penting manusia. Iman menjadi penentu diterima tidaknya segala kebaikan setiap insan. Tanpa iman segala amal baik tidak bernilai di sisi Allah. Dengan iman, sesederhana apa pun, segala amal baik akan mendapat balasan yang lebih baik (QS [16]: 97).
Dengan demikian tidak ada urusan yang paling mendasar, penting, dan utama bagi setiap Muslim selain menjaga kualitas iman dan senantiasa meningkatkannya.
Dari Abu Amr atau Abu Amrah Sufyan bin Abdullah, ia berkata, “Saya berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, tolong ajari saya suatu ucapan yang mengandung ajaran Islam dan saya tidak perlu lagi bertanya kepada siapa pun selain Anda’.” Rasulullah menjawab, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian bersikap istiqamah.” (HR Muslim).
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menjabarkan bahwa istiqamah adalah sikap konsisten dalam taat kepada Allah. Allah berfirman, “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu .…” (QS [11]: 112).
Hal inilah yang mendorong seorang Umar bin Khathab tetap dalam kesederhanaan sekalipun telah mengemban amanah sebagai seorang khalifah. Begitu pula halnya dengan Ali bin Abi Thalib yang tetap bahagia meskipun bekerja sebagai pengangkut air pada seorang majikan yang beragama Yahudi. Termasuk Sayyidah Fathimah, putri kesayangan Rasulullah SAW. Sebagai putri nabi, Fathimah tetap memilih hidup dengan usaha sendiri. Setiap hari Fathimah bekerja menggiling gandum hingga melepuh telapak tangannya.
Demikian pula halnya dengan Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda yang teguh memegang iman dalam situasi zaman yang penuh kejahiliyahan. Dalam situasi seperti itu, pemuda Ashabul Kahfi itu memohon keselamatan dan keteguhan iman (QS [18]: 10, 13, 14).
Semua itu dilakukan bukan karena mereka anti dunia, tetapi lebih karena ingin kedekatan hatinya kepada Allah SWT tidak terganggu (istiqamah). Dunia cukuplah bisa menegakkan tulang rusuk guna beribadah kepada-Nya, demikian salah satu pesan nabi.
Harta, tahta, dan wanita kadang membuat manusia tidak istiqamah dalam iman, seperti Qarun dan Tsa’labah. Demi dunia, keduanya rela melepas imannya. Padahal, balasan bagi Muslim yang istiqamah adalah surga.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS [46]: 13, 14).
Republika.co.id
Hikmah Isra Mi’raj
Categories :
berita . contoh berita feature . hikmah isra mi'raj . news and artikel
Banyak yang bilang peristiwa itu Nabi saw menerima perintah
sholat, benarkah?
Peristiwa Isra' Mi'raj terjadi tahun ke-11 kenabian. Rasulullah saw saat itu berumur 51 tahun. Apakah sebelumnya Beliau saw tidak sholat?
Jawabannya: Nabi saw sudah sholat sebelumnya, jadi apa dong hikmah Isra' Mi'raj? Baiknya lihat latar belakang sebelum dan sesudahnya.
Tahun ketujuh hingga ke-10 Kenabian, Beliau saw beserta Bani Hasyim diboikot oleh kaum Quraisy di Syi'ib Abd Muthalib. Tidak ditegur dan disapa. Tidak boleh ada yang berjual beli dg keluarga Nabi saw. Tidak boleh dibantu, tidak boleh bermu'amalah. Keluarga Nabi saw sangat menderita.
Pernah dapur beliau saw tidak mengepulkan asap selama tiga hari. Terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun, bahkan kulit sepatu bekas yg di iris-iris dan direbus. Khadijah ra pernah menangis melihat putrinya Fathimah, balita ini sdh ikut merasakan kelaparan. "Aku nggak apa-apa ya Ummi", ucap Fathimah.
Shahabat pernah bilang "maa fiihi khalats"(tak ada lagi campurannya). "Kami makan seperti hewan-hewan makan, kami makan daun dan keluar juga daun."
Boikot berakhir pada tahun ke-10 Kenabian, naskahnya dimakan rayap. Rasulullah saw sekeluarga mulai bernapas lega. Kenapa diboikot? Karena Islam. Namun ujian dari Allah swt belum usai, tiba-tiba Khadijah wafat, isteri tercinta tiada lagi. Tak ada pelabuhan hati, pemberi semangat dan canda.
Ketika pergi tak ada yang mengantar ke pintu, ketika pulang ke rumah tak ada kekasih yang menanti. Hari-hari pun tidak secerah dulu, mendung. Rasulullah saw terlahir sebagai yatim, saat usia 6 tahun ibu Beliau wafat. Dan usia 8 tahun, kakeknya wafat. Lalu tinggal dengan pamannya Abu Thalib. Sangat kurang kasih sayang, yang baru ditemukan saat menikah Khadijah. Saat itu Nabi saw berusia 25 tahun, Khadijah sudah 40 tahun.
Sebagai isteri yang setia, Khadijah selalu memberi semangat kepada Nabi saw, memanggil suami dengan sebutan, "Ya Habibi" (duhai kekasihku). Tidak lama setelah Khadijah wafat, menyusul pula Abu Thalib wafat. Kafir Quraisy kian meraja lela menganiaya Rasulullah saw.
Suatu hari beliau saw mengajak Zaid bin Haritsah pergi ke Thaif untuk berdakwah. Thaif berjarak 60 km dari Makkah, daerah hijau dan sering hujan. Mungkin penduduknya lebih ramah. Namun baru saja memasuki kota Thaif, sekelompok pemuda melempari beliau saw dengan batu, hingga berdarah-darah.
Nabi saw berlari, pucat dengan tubuh yang luka-luka. Beliau saw sadar, Allah swt masih menguji kesetiaan kekasihNya yang bernama Muhammad saw. Curhat Nabi saw, "Ya Allah kepada Engkaulah kucurahkan segala kelemahanku, kehinaanku, sedikit upayaku. Ya Arhamar Rahimin.
Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah. Kepada siapa aku ini Engkau serahkan. Kepada musuh yang akan memusnahkanku atau pada teman yang menolongku. "Apapun yang Engkau timpakan padaku, asalkan Engkau tidak murka padaku Ya Allah, aku tak akan peduli...."
Tidak lama dari Thaif, turunlah surat Yusuf. Allah swt bercerita, ada nabi lain yang lebih menderita. Saat usia dua tahu Yusuf dibuang saudaranya. Dipungut, diperjual belikan, saat remaja ganteng, kena fitnah oleh Zulaikha, masuk penjara. Puluhan tahun berpisah dengan ayahanda Ya'kub.
Barulah pada tahun ke-11 Kenabian terjadi peristiwa Isra' Mi'raj. Diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu ke langit ketujuh. Dari langit ketujuh beliau saw naik ke Shidratul Muntaha, berjumpa dengan Allah swt. Cahaya diatas cahaya. Tapi sempat berdialog dengan Allah swt.
Memang terjadi, atas usul Nabi Mus as, minta keringanan, hingga sholat yg tadinya 50 kali, menjadi 5 kali sehari semalam. Namun hikmah lain ada, yaitu dukungan moril, setelah didera ujian yang bertubi-tubi sebelumnya. Tentunya persiapan dakwah setelah hijrah ke kota Madinah.
Demikian sekilas hikmah Isra' Mi'raj, semoga berkenan.
Peristiwa Isra' Mi'raj terjadi tahun ke-11 kenabian. Rasulullah saw saat itu berumur 51 tahun. Apakah sebelumnya Beliau saw tidak sholat?
Jawabannya: Nabi saw sudah sholat sebelumnya, jadi apa dong hikmah Isra' Mi'raj? Baiknya lihat latar belakang sebelum dan sesudahnya.
Tahun ketujuh hingga ke-10 Kenabian, Beliau saw beserta Bani Hasyim diboikot oleh kaum Quraisy di Syi'ib Abd Muthalib. Tidak ditegur dan disapa. Tidak boleh ada yang berjual beli dg keluarga Nabi saw. Tidak boleh dibantu, tidak boleh bermu'amalah. Keluarga Nabi saw sangat menderita.
Pernah dapur beliau saw tidak mengepulkan asap selama tiga hari. Terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun, bahkan kulit sepatu bekas yg di iris-iris dan direbus. Khadijah ra pernah menangis melihat putrinya Fathimah, balita ini sdh ikut merasakan kelaparan. "Aku nggak apa-apa ya Ummi", ucap Fathimah.
Shahabat pernah bilang "maa fiihi khalats"(tak ada lagi campurannya). "Kami makan seperti hewan-hewan makan, kami makan daun dan keluar juga daun."
Boikot berakhir pada tahun ke-10 Kenabian, naskahnya dimakan rayap. Rasulullah saw sekeluarga mulai bernapas lega. Kenapa diboikot? Karena Islam. Namun ujian dari Allah swt belum usai, tiba-tiba Khadijah wafat, isteri tercinta tiada lagi. Tak ada pelabuhan hati, pemberi semangat dan canda.
Ketika pergi tak ada yang mengantar ke pintu, ketika pulang ke rumah tak ada kekasih yang menanti. Hari-hari pun tidak secerah dulu, mendung. Rasulullah saw terlahir sebagai yatim, saat usia 6 tahun ibu Beliau wafat. Dan usia 8 tahun, kakeknya wafat. Lalu tinggal dengan pamannya Abu Thalib. Sangat kurang kasih sayang, yang baru ditemukan saat menikah Khadijah. Saat itu Nabi saw berusia 25 tahun, Khadijah sudah 40 tahun.
Sebagai isteri yang setia, Khadijah selalu memberi semangat kepada Nabi saw, memanggil suami dengan sebutan, "Ya Habibi" (duhai kekasihku). Tidak lama setelah Khadijah wafat, menyusul pula Abu Thalib wafat. Kafir Quraisy kian meraja lela menganiaya Rasulullah saw.
Suatu hari beliau saw mengajak Zaid bin Haritsah pergi ke Thaif untuk berdakwah. Thaif berjarak 60 km dari Makkah, daerah hijau dan sering hujan. Mungkin penduduknya lebih ramah. Namun baru saja memasuki kota Thaif, sekelompok pemuda melempari beliau saw dengan batu, hingga berdarah-darah.
Nabi saw berlari, pucat dengan tubuh yang luka-luka. Beliau saw sadar, Allah swt masih menguji kesetiaan kekasihNya yang bernama Muhammad saw. Curhat Nabi saw, "Ya Allah kepada Engkaulah kucurahkan segala kelemahanku, kehinaanku, sedikit upayaku. Ya Arhamar Rahimin.
Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah. Kepada siapa aku ini Engkau serahkan. Kepada musuh yang akan memusnahkanku atau pada teman yang menolongku. "Apapun yang Engkau timpakan padaku, asalkan Engkau tidak murka padaku Ya Allah, aku tak akan peduli...."
Tidak lama dari Thaif, turunlah surat Yusuf. Allah swt bercerita, ada nabi lain yang lebih menderita. Saat usia dua tahu Yusuf dibuang saudaranya. Dipungut, diperjual belikan, saat remaja ganteng, kena fitnah oleh Zulaikha, masuk penjara. Puluhan tahun berpisah dengan ayahanda Ya'kub.
Barulah pada tahun ke-11 Kenabian terjadi peristiwa Isra' Mi'raj. Diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu ke langit ketujuh. Dari langit ketujuh beliau saw naik ke Shidratul Muntaha, berjumpa dengan Allah swt. Cahaya diatas cahaya. Tapi sempat berdialog dengan Allah swt.
Memang terjadi, atas usul Nabi Mus as, minta keringanan, hingga sholat yg tadinya 50 kali, menjadi 5 kali sehari semalam. Namun hikmah lain ada, yaitu dukungan moril, setelah didera ujian yang bertubi-tubi sebelumnya. Tentunya persiapan dakwah setelah hijrah ke kota Madinah.
Demikian sekilas hikmah Isra' Mi'raj, semoga berkenan.
Kultwit : @tifsembiring
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer
-
Saat kumandang azan Dhuhur bergema di langit Parung Bogor, seorang pria paruh baya bergegas meninggalkan perkebunan jambu biji menuju...
-
Sebanyak 11 relawan Rumah Zakat diterjunkan untuk membantu warga sekitar kali Code, tepatnya di Bawah jembatan Kewek kelurahan Tegal Pangg...
-
Wiwin (41) adalah satu dari 200 warga yang mengikuti Program Pemberdayaan Peternak Rumah Zakat di Sentra Pemberdayaan Agro Oray Tapa Mekarma...
-
KOTA TANGSEL – Sebagai jawaban atas dunia pendidikan di negeri kita yang seperti tak henti-henti dirundung duka dan prahara. Quranic ...
-
JAKARTA SELATAN (30/7). Wajah Fadlan, 7, kini terlihat sumringah karena harapan setahun lalu untuk menjadi siswa sekolahan dan merasakan dud...

