Diberdayakan oleh Blogger.
 
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Selasa, 12 Februari 2013

Media Sosial Sebagai Penyeimbang Berita

0 komentar

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dewasa ini telah ‘memaksa’ industri komunikasi untuk menggabungkan media konvensional dan teknologi komunikasi. Hal itu bisa dilihat dari media cetak besar di Indonesia yang memanfaatkan teknologi komunikasi dengan membuat portal berita online. Di dunia barat pun, pengelola media konvensional sudah ketakutan karena media elektronik (internet) sudah mengalahkan media cetak. Sampai-sampai di barat sana ada banyak koran yang mulai bangkrut. Bahkan ada yang memprediksi, bahwa berita media cetak mungkin suatu saat akan punah karena adanya berita media online yang lebih cepat mengakses informasi.

Apalagi sejak mewabahnya pengguna media sosial semacam facebook dan twitter. Tak hanya media online, pengguna media sosial juga berpacu meng-update konten akunnya. Pengguna media sosial seperti facebook dan twitter secara berulang dan berantai melakukan penyebaran berita hangat terkait prahara politik secara massif dan cepat. Demikian pula dengan blogger, dengan cepat mengutip atau sekedar meng-copy paste berita “panas” dari media online untuk menaikkan kunjungan ke “lapak” nya.

Sepertinya media sosial kini sudah menjadi media alternatif untuk menyebarkan berita. Tidak hanya itu, media sosial saat ini juga menjadi penyeimbang bagi media massa yang mendominasi isu pemberitaan yang muncul di masyarakat seperi TV, Koran, Majalah, Radio dan Tabloid. Media sosial mampu menjadi penyeimbang isu negatif bagi kelompok atau topik perbincangan yang santer di media konvensional. Seperti halnya, saat Metro TV beberapa waktu lalu menyiarkan berita bahwa “Rohis Sarang Teroris” maka muncul gerakan di dunia maya “1.000.000 Gerakan Tuntut Metro Tv Minta Maaf Kpd Rohis Se-Indonesia”. Kemudian dilanjutkan ke gerakan offline dengan digelarnya aksi simpatik ribuan aktivis Rohis se-Indonesia yang menuntut agar Metro TV minta maaf. Dari gerakan ini akhirnya mampu memaksa Metro TV minta maaf kepada Rohis (kerohanian islam, eskul tingkat SMP dan SMA), karena Metro TV terbukti ceroboh dan tidak mampu membuktikan keakuratan data beritanya.

Kini, sebagian masyarakat khususnya daerah perkotaan yang melek internet dan mudah mendapat akses berita mulai paham, bahwa industri komunikasi di Indonesia saat ini dikuasi oleh pemimpin partai politik. Sebut saja Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem adalah pemilik Metro TV dan Media Indonesia beserta media onlinenya. Abu Rizal Bakrie, Ketua Umum Partai Golkar adalah pemilik Viva Group (TV One, ANTV, dan vivanews.com). Sebagian masyarakat pun bersyukur saat Harry Tanoe, pemilik MNC Group mengundurkan diri dari Partai Nasdem, karena apa jadinya wajah media massa kita jika hampir semua media massa nasional dimonopoli oleh pimpinan partai politik. Apalagi menjelang Pemilu 2014, apakah media massa yang dikuasai pimpinan partai politik ini bisa adil dan obyektif dalam menyajikan berita, khususnya yang terkait dengan isu politik?

Jika monopoli kepemilikan ini berkembang subur di Indonesia dan suratkabar – suratkabar kuat berhasil mencapai status monopolistik dalam kegiatan bisnis mereka, akankah dunia pers kita kehilangan peranannya sebagai the fourth estate, pilar keempat, setelah tiga pilar lainnya dalam demokrasi yaitu eksekutif, yudikatif, dan legislatif akhir – akhir ini tidak bisa diandalkan? Secara historis, apalagi relevansinya di era reformasi di Indonesia sekarang ini sangat besar, pers sebagai pilar keempat sangat diharapkan untuk dapat menyuarakan keinginan rakyat, yaitu keinginan untuk mencapai kehidupan demokratis yang sebenar – benarnya.

Obyektivitas Berita
Bisakah masyarakat percaya 100 persen terhadap konten berita yang disajikan media mainstream? Kemudian menelan mentah-mentah isi berita tersebut. Menurut saya, percaya 100 persen pada isi berita adalah sesuatu yang berlebihan. Karena awak media juga kumpulan manusia, bukan seperti malaikat yang jauh dari kesalahan dan nafsu. Jadi, dari sisi obyektivitas dan keakuratan berita memungkinkan ada celah kesalahan dalam karya jurnalistik.

Menurut Hikmat Kusumaningrat & Purnama Kusumaningrat dalam bukunya yang berjudul “Jurnalistik, Teori dan Praktek” mengatakan, bagi seorang wartawan, untuk menyusun sebuah laporan atau tulisan yang adil dan berimbang tidaklah sesulit memelihara obyektivitas. Yang dimaksud dengan sikap adil dan berimbang adalah bahwa seorang wartawan harus melaporkan apa yang sesungguhnya terjadi. Unsur adil dan berimbang dalam berita mungkin sama sulitnya untuk dicapai seperti juga keakuratan dalam menyajikan fakta.

Keakuratan sesuatu fakta tidak selalu menjamin keakuratan arti.  Fakta-fakta yang akurat yang dipilih atau disusun secara longgar atau tidak adil sama menyesatkannya dengan kesalahan yang sama sekali palsu. Dengan menyisipkan fakta-fakta yang tidak relevan atau dengan menghilangkan fakta-fakta yang seharusnya ada di sana, pembaca mungkin mendapat kesan yang palsu.

Setidaknya ini yang penulis rasakan, ketika media – media mainstream memberitakan peristiwa yang berkaitan dengan Islam, Ormas Islam dan tokoh Islam terkesan tidak adil (menyudutkan, diskriminatif, dan tendensius) dalam menyajikan isi berita. Terkesan ummat Islam yang selalu dirugikan.

Misalnya, setiap ada berita penangkapan terduga teroris, kebanyakan yang menjadi sumber berita hanya dari pihak kepolisian dan Densus 88 atau pengamat yang sudah sefikroh dengan aparat polisi. Sehingga dalam berita selalu disebutkan para terduga teroris ditembak mati karena melawan atau membawa senjata. Padahal para terduga teroris ini belum dibuktikan di muka pengadilan, namun sudah keburu didor sama Densus 88.

Media juga begitu semangat untuk mem-blouw up ‘wajah sangar’ FPI saat aksi sweeping kemaksiatan. Sehingga dikesankan FPI adalah organisasi anarkis. Tetapi apakah media mainstream mau memberitakan ‘wajah ramah’ FPI, semisal aksi peduli laskar FPI saat banjir Jakarta kemarin?.

Atau media sangat membela aliran – aliran sesat (Ahmadiyah, Syiah dll) saat ummat Islam marah atas penistaan agama yang dilakukan mereka. Media hanya mengulas aliran sesat ini sebagai pihak yang dizholimi oleh mayoritas Ummat Islam. Tanpa berita berimbang mengapa ummat Islam marah terhadap kelompok aliran sesat tersebut.

Begitu juga yang terjadi beberapa pekan ini, sejak ditangkapnya Lutfi Hasan Ishaq (LHI) oleh KPK tanggal 30 Januari 2012, trend perbincangan tentang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melonjak tajam. Ini hampir mendekati angka survei yang dilakukan oleh Win and Wise Communication yang menemukan bahwa percakapan tentang PKS oleh warga di sosial media mencapai angka 1700 percakapan/menit. 

Seperti diketahui, ketika berita penangkapan LHI muncul isunya ikut ditangkap supir Mentan. Ternyata dibantah. Kemudian, yang mau disuap adalah anggota Komisi IV DPR dari PKS. Sekarang jadi LHI yang jelas-jelas bukan di Komisi IV tapi di Komisi I. Hingga sampai media seperti Okezone pun ikut melakukan ketidakobyektifan berita, bahwa LHI ditangkap oleh KPK bersama seorang wanita muda?

Membahas masalah berita tidaklah lengkap jika tidak membahas juga apa yang disebut berita sensasi. Kita sering mendengar orang berkata, “Ah, itu sih sensasi!” Memang, unsur jurnalistik yang paling dikenal orang, bahkan orang awam sekalipun, adalah unsur sensasi itu. Menurut Hikmat Kusumaningrat, perkataan sensasi yang berasal dari perkataan Inggris sensation, dari kata sense, sudah cukup menggambarkan apa yang disebut berita sensasi, yakni berita yang isinya, dan terutama cara mengemukakannya, terlalu didasarkan pada keinginan untuk menarik perhatian, membangkitkan perasaan, emosi. Jadi berita sensasi harus hebat, harus menimbulkan keheranan, ketakjuban, kengerian, pendeknya harus meluapkan berbagai macam perasaan.

Dengan demikian, berita sensasi sedikit sekali didasarkan pada nalar atau samasekali tidak didasarkan pada nalar yang sehat.

Penyeimbang Tirani Informasi
Lalu bagaimana untuk menyeimbangkan pemberitaan media mainstream yang terkadang tidak akurat 100 persen. Dan sering merugikan Ummat Islam?

Mengutip pernyataan Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Atma Jayakarta, Alois A Nugroho yang dimuat di Harian Kompas Kamis (7/2/2013), di halaman dua, mengungkapkan bahwa untuk mengimbangi tirani informasi yang muncul menjelang dan selama pelaksanaan pemilu 2014, masyarakat diminta menggunakan media sosial sebagai alat penyebaran informasi pembanding.

Menurutnya, komunikasi lewat media sosial juga bisa menghimpun gerakan civil society dalam isu tertentu. Tapi harus diingat, gerakan melalui media sosial hanya bisa efektif jika diikuti dengan gerakan offline.

Pada akhirnya, semua parpol perlu melihat fenomena sosial yang ada di media sosial untuk berkaca diri dan mengatur strategi, tak semua kejadian buruk yang menimpa parpol akan serta merta menjatuhkan parpol itu dalam seketika.

Ya, prahara politik PKS bisa jadi bukti, bagaimana media sosial mengalami lalu lintas yang ramai oleh perbincangan politik yang membuat banyak orang bisa terbuka untuk membedah sisi PKS dari seluruh penjuru angin. Baik pengkritik maupun pendukung PKS di media sosial, terlihat secara massif mengirimkan pesan atau isu melalui media sosial, yang membuat PKS dan kasusnya menjadi topik terpopuler.***[cipto apa cipta].
Read more...

Sudahkan Media Mainstream Memenuhi Unsur Layak Berita?

0 komentar

Bisakah kita percaya 100 % terhadap konten berita yang disajikan media mainstream? Kemudian menelan mentah-mentah isi berita tersebut. Menurut saya, percaya 100 % isi berita adalah sesuatu yang berlebihan. Karena awak media juga seperti kumpulan manusia, bukan malaikat yang jauh dari kesalahan dan nafsu.

Bagi seorang wartawan, untuk menyusun sebuah laporan atau tulisan yang adil dan berimbang tidaklah sesulit memelihara OBYEKTIVITAS. Yang dimaksud dengan sikap adil dan berimbang adalah bahwa seorang wartawan harus melaporkan apa yang sesungguhnya terjadi. Unsur adil dan berimbang dalam berita mungkin sama sulitnya untuk dicapai seperti juga keakuratan dalam menyajikan fakta. 

Keakuratan sesuatu fakta tidak selalu menjamin keakuratan arti.  Fakta-fakta yang akurat yang dipilih atau disusun secara longgar atau tidak adil sama menyesatkannya dengan kesalahan yang sama sekali palsu. Dengan menyisipkan fakta-fakta yang tidak relevan atau dengan menghilangkan fakta-fakta yang seharusnya ada di sana, pembaca mungkin mendapat kesan yang palsu.

Setidaknya ini yang saya rasakan, ketika media – media mainstream memberitakan kejadian yang berkaitan dengan Islam atau Ormas Islam terkesan tidak adil (menyudutkan, diskriminatif, dan tendensius) dalam menyajikan isi berita. Terkesan ummat Islam yang selalu dirugikan.

Sebut saja, saat penangkapan teroris, yang menjadi sumber berita hanya dari pihak kepolisian dan densus 88 atau pengamat yang sudah sefikrah dengan aparat polisi. Sehingga dalam berita selalu disebutkan para terduga teroris ditembak mati karena melawan/ membawa senjata. 

Media begitu semangat untuk memberitakan ‘wajah sangar’ FPI saat aksi sweeping. Sehingga dikesankan FPI adalah organisasi anarkis. Tetapi apakah media mainstream mau memberitakan ‘wajah ramah’ FPI, semisal aksi peduli banjir Jakarta kemarin (setahu saja ga ada, yang memberitakan media OL Islam saja). 

Atau media sangat membela aliran – aliran sesat (Ahmadiyah, Syiah dll) saat ummat Islam marah atas penistaan agama yang dilakukan mereka. Media hanya mengulas aliran sesat ini sebagai pihak yang dizholimi oleh mayoritas Ummat Islam. Sepertinya media-media ini ingin mengesankan bahwa ummat Islam Indonesia tidak toleran. Dan itu sudah berhasil lewat LSM – LSM liberal.

Koran sekelas KOMPAS pun sangat tidak obyektif saat memberikan keterangan foto headline aksi pendukung Mursy. Masa Kompas hanya menulis “RATUSAN” pendukung Mursy (ciuuus ratusan?). walau saya belum pernah ke Mesir, tapi saya yakin jumlah pendukung Mursy tidak seperti yang disebutkan Kompas.

Begitu juga yang terjadi beberapa pekan ini, sejak ditangkapnya LHI oleh KPK tanggal 30 Januari 2012, trend perbincangan tentang PKS melonjak tajam. Ini hampir mendekati angka survei yang dilakukan oleh Win and Wise Communication yang menemukan bahwa percakapan tentang PKS oleh warga di sosial media mencapai angka 1700 percakapan/menit. WOW.

Seperti yang disampaikan Ustadz Ika di milis ini bahwa, ketika berita penangkapan muncul isunya ikut ditangkap supir Mentan. Ternyata dibantah. Kemudian, yang mau disuap adalah anggota Komisi IV DPR dari PKS. Sekarang jadi LHI yg jelas2 bukan di Komisi IV tapi di Komisi I. (hehehe...wartawan juga seperti PKS bukan kumpulan malaikat).

Hingga sampai media seperti Okezone pun ikut melakukan berita fitnah bahwa Ustad Luthfi ditangkap oleh KPK bersama seorang wanita muda? (tuing..tuing).

Adapun media massa barat juga tak jauh berbeda, unsur adil dan berimbang masih sulit ditemukan saat menampilkan wajah islam sebagai teroris.

Lalu bagaimana untuk menyeimbangkan pemberitaan media mainstream yang terkadang tidak akurat 100 persen. Dan sering merugikan Ummat Islam?

Mengutip pernyataan Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Atma Jayakarta, Alois A Nugroho yang dimuat di Harian Kompas Kamis (7/2/2013), di halaman dua, mengungkapkan bahwa untuk mengimbangi tirani informasi yang muncul menjelang dan selama pelaksanaan pemilu 2014, masyarakat diminta menggunakan media sosial sebagai alat penyebaran informasi pembanding.

Media sosial saat ini menjadi penyeimbang bagi media massa yang mendominasi isu pemberitaan yang muncul di mayarakat seperi TV, Koran, Majalah, Radio dan Tabloid. Media sosial mampu menjadi penyeimbang isu negatif bagi kelompok atau topik perbincangan yang santer di media konvensional. “Bisa dikatakan informasi di media sosial bisa dipakai untuk mengimbangi pemberitaan media massa.” Kata Alois. Dia menambahkan, komunikasi lewat media sosial juga bisa menghimpun gerakan civil society dalam isu tertentu.

“Tapi harus diingat, gerakan melalui media sosial hanya bisa efektif jika diikuti dengan gerakan offline.” Ungkapnya.

Kita masih ingat, saat Metro TV memberitakan bahwa “Rohis Sarang Teroris” muncul gerakan di FB “1.000.000 Gerakan Tuntut Metro Tv Minta Maaf Kpd Rohis Se-Indonesia”. Dari gerakan ini mampu memaksa Metro TV minta maaf kepada Rohis.

Akhirnya, mari kita ramaikan media sosial (FB, Twiter, Blog, Kompasiana dll). Dengan pesan-pesan aksi positif PKS. Karena yang dilakukan LHI tidak mencerminkan wajah PKS. Tapi seperti yang diungkapkan Ustadz Hidayat Nur Wahid itu adalah urusan pribadi LHI.

 “Berapa banyak kader PKS yang menghafal al-Qur'an? Mengingatkan shalat Subuh di Masjid? Mendidik untuk baca al-Qur'an setiap hari? Mau lihat PKS ya lihat perilaku kadernya. Itulah PKS yang sebenarnya," jelas Ustadz Abdurrohim (anak Ustadz ABB) di hidayatullah.com.

Mari kita sebarkan kebaikan dari sisi positif PKS. [cipks].

Read more...
Selasa, 19 Juni 2012

Mari Beristiqamah

0 komentar

 Zaman boleh berganti, waktu boleh berlalu. Tetapi, keimanan harus tetap dalam hati hingga tiba waktunya pulang menghadap Ilahi. Tekanan boleh muncul dari kiri kanan, paksaan boleh datang menantang, tapi keimanan harus tetap dikedepankan.

Iman tidak boleh bengkok, rapuh, apalagi lenyap ditelan zaman. Iman harus tetap kuat, kokoh, dan eksis dalam menghadapi ujian, cobaan, tantangan, bahkan ancaman dan serangan. Dalam Islam, iman adalah perkara asasi. Ia lebih penting dari segala urusan penting manusia. Iman menjadi penentu diterima tidaknya segala kebaikan setiap insan. Tanpa iman segala amal baik tidak bernilai di sisi Allah. Dengan iman, sesederhana apa pun, segala amal baik akan mendapat balasan yang lebih baik (QS [16]: 97).

Dengan demikian tidak ada urusan yang paling mendasar, penting, dan utama bagi setiap Muslim selain menjaga kualitas iman dan senantiasa meningkatkannya.

Dari Abu Amr atau Abu Amrah Sufyan bin Abdullah, ia berkata, “Saya berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, tolong ajari saya suatu ucapan yang mengandung ajaran Islam dan saya tidak perlu lagi bertanya kepada siapa pun selain Anda’.” Rasulullah menjawab, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian bersikap istiqamah.” (HR Muslim).

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menjabarkan bahwa istiqamah adalah sikap konsisten dalam taat kepada Allah. Allah berfirman, “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu .…” (QS [11]: 112).

Hal inilah yang mendorong seorang Umar bin Khathab tetap dalam kesederhanaan sekalipun telah mengemban amanah sebagai seorang khalifah. Begitu pula halnya dengan Ali bin Abi Thalib yang tetap bahagia meskipun bekerja sebagai pengangkut air pada seorang majikan yang beragama Yahudi. Termasuk Sayyidah Fathimah, putri kesayangan Rasulullah SAW. Sebagai putri nabi, Fathimah tetap memilih hidup dengan usaha sendiri. Setiap hari Fathimah bekerja menggiling gandum hingga melepuh telapak tangannya.

Demikian pula halnya dengan Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda yang teguh memegang iman dalam situasi zaman yang penuh kejahiliyahan. Dalam situasi seperti itu, pemuda Ashabul Kahfi itu memohon keselamatan dan keteguhan iman (QS [18]: 10, 13, 14).

Semua itu dilakukan bukan karena mereka anti dunia, tetapi lebih karena ingin kedekatan hatinya kepada Allah SWT tidak terganggu (istiqamah). Dunia cukuplah bisa menegakkan tulang rusuk guna beribadah kepada-Nya, demikian salah satu  pesan nabi.

Harta, tahta, dan wanita kadang membuat manusia tidak istiqamah dalam iman, seperti Qarun dan Tsa’labah. Demi dunia, keduanya rela melepas imannya. Padahal, balasan bagi Muslim yang istiqamah adalah surga.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS [46]: 13, 14).

Republika.co.id
Read more...

Hikmah Isra Mi’raj

0 komentar

 Banyak yang bilang peristiwa itu Nabi saw menerima perintah sholat, benarkah?

Peristiwa Isra' Mi'raj terjadi tahun ke-11 kenabian. Rasulullah saw saat itu berumur 51 tahun. Apakah sebelumnya Beliau saw tidak sholat?

Jawabannya: Nabi saw sudah sholat sebelumnya, jadi apa dong hikmah Isra' Mi'raj? Baiknya lihat latar belakang sebelum dan sesudahnya.

Tahun ketujuh hingga ke-10 Kenabian, Beliau saw beserta Bani Hasyim diboikot oleh kaum Quraisy di Syi'ib Abd Muthalib. Tidak ditegur dan disapa. Tidak boleh ada yang berjual beli dg keluarga Nabi saw. Tidak boleh dibantu, tidak boleh bermu'amalah. Keluarga Nabi saw sangat menderita.

Pernah dapur beliau saw tidak mengepulkan asap selama tiga hari. Terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun, bahkan kulit sepatu bekas yg di iris-iris dan direbus. Khadijah ra pernah menangis melihat putrinya Fathimah, balita ini sdh ikut merasakan kelaparan. "Aku nggak apa-apa ya Ummi", ucap Fathimah.

Shahabat pernah bilang "maa fiihi khalats"(tak ada lagi campurannya). "Kami makan seperti hewan-hewan makan, kami makan daun dan keluar juga daun."

Boikot berakhir pada tahun ke-10 Kenabian, naskahnya dimakan rayap. Rasulullah saw sekeluarga mulai bernapas lega. Kenapa diboikot? Karena Islam. Namun ujian dari Allah swt belum usai, tiba-tiba Khadijah wafat, isteri tercinta tiada lagi. Tak ada pelabuhan hati, pemberi semangat dan canda.

Ketika pergi tak ada yang mengantar ke pintu, ketika pulang ke rumah tak ada kekasih yang menanti. Hari-hari pun tidak secerah dulu, mendung. Rasulullah saw terlahir sebagai yatim, saat usia 6 tahun ibu Beliau wafat. Dan  usia 8 tahun, kakeknya wafat. Lalu tinggal dengan pamannya Abu Thalib. Sangat kurang kasih sayang, yang baru ditemukan saat menikah Khadijah. Saat itu Nabi saw berusia 25 tahun, Khadijah sudah 40 tahun.

Sebagai isteri yang setia, Khadijah selalu memberi semangat kepada Nabi saw, memanggil suami dengan sebutan, "Ya Habibi" (duhai kekasihku). Tidak lama setelah Khadijah wafat, menyusul pula Abu Thalib wafat. Kafir Quraisy kian meraja lela menganiaya Rasulullah saw.

Suatu hari beliau saw mengajak Zaid bin Haritsah pergi ke Thaif untuk berdakwah. Thaif berjarak 60 km dari Makkah, daerah hijau dan sering hujan. Mungkin penduduknya lebih ramah. Namun baru saja memasuki kota Thaif, sekelompok pemuda melempari beliau saw dengan batu, hingga berdarah-darah.

Nabi saw berlari, pucat dengan tubuh yang luka-luka. Beliau saw sadar, Allah swt masih menguji kesetiaan kekasihNya yang bernama Muhammad saw. Curhat Nabi saw, "Ya Allah kepada Engkaulah kucurahkan segala kelemahanku, kehinaanku, sedikit upayaku. Ya Arhamar Rahimin.

Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah. Kepada siapa aku ini Engkau serahkan. Kepada musuh yang akan memusnahkanku atau pada teman yang menolongku. "Apapun yang Engkau timpakan padaku, asalkan Engkau tidak murka padaku Ya Allah, aku tak akan peduli...."

Tidak lama dari Thaif, turunlah surat Yusuf. Allah swt bercerita, ada nabi lain yang lebih menderita. Saat usia dua tahu Yusuf dibuang saudaranya. Dipungut, diperjual belikan, saat remaja ganteng, kena fitnah oleh Zulaikha, masuk penjara. Puluhan tahun berpisah dengan ayahanda Ya'kub.

Barulah pada tahun ke-11 Kenabian terjadi peristiwa Isra' Mi'raj. Diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu ke langit ketujuh. Dari langit ketujuh beliau saw naik ke Shidratul Muntaha, berjumpa dengan Allah swt. Cahaya diatas cahaya. Tapi sempat berdialog dengan Allah swt.

Memang terjadi, atas usul Nabi Mus as, minta keringanan, hingga sholat yg tadinya 50 kali, menjadi 5 kali sehari semalam. Namun hikmah lain ada, yaitu dukungan moril, setelah didera ujian yang bertubi-tubi sebelumnya. Tentunya persiapan dakwah setelah hijrah ke kota Madinah.

Demikian sekilas hikmah Isra' Mi'raj, semoga berkenan.

Kultwit : @tifsembiring

Read more...

Entri Populer

 
News & Artikel Abu Hylmi © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here