
Banyak yang bilang peristiwa itu Nabi saw menerima perintah
sholat, benarkah?
Peristiwa Isra' Mi'raj terjadi tahun ke-11 kenabian. Rasulullah saw saat itu
berumur 51 tahun. Apakah sebelumnya Beliau saw tidak sholat?
Jawabannya: Nabi saw sudah sholat sebelumnya, jadi apa dong hikmah Isra'
Mi'raj? Baiknya lihat latar belakang sebelum dan sesudahnya.
Tahun ketujuh hingga ke-10 Kenabian, Beliau saw beserta Bani Hasyim diboikot
oleh kaum Quraisy di Syi'ib Abd Muthalib. Tidak ditegur dan disapa. Tidak boleh
ada yang berjual beli dg keluarga Nabi saw. Tidak boleh dibantu, tidak boleh
bermu'amalah. Keluarga Nabi saw sangat menderita.
Pernah dapur beliau saw tidak mengepulkan asap selama tiga hari. Terpaksa
memakan kulit kayu, daun-daun, bahkan kulit sepatu bekas yg di iris-iris dan
direbus. Khadijah ra pernah menangis melihat putrinya Fathimah, balita ini sdh
ikut merasakan kelaparan. "Aku nggak apa-apa ya Ummi", ucap Fathimah.
Shahabat pernah bilang "maa fiihi
khalats"(tak ada lagi campurannya). "Kami makan seperti
hewan-hewan makan, kami makan daun dan keluar juga daun."
Boikot berakhir pada tahun ke-10 Kenabian, naskahnya dimakan rayap. Rasulullah
saw sekeluarga mulai bernapas lega. Kenapa diboikot? Karena Islam. Namun ujian dari
Allah swt belum usai, tiba-tiba Khadijah wafat, isteri tercinta tiada lagi. Tak
ada pelabuhan hati, pemberi semangat dan canda.
Ketika pergi tak ada yang mengantar ke pintu, ketika pulang ke rumah tak ada
kekasih yang menanti. Hari-hari pun tidak secerah dulu, mendung. Rasulullah saw
terlahir sebagai yatim, saat usia 6 tahun ibu Beliau wafat. Dan usia 8 tahun, kakeknya wafat. Lalu tinggal dengan
pamannya Abu Thalib. Sangat kurang kasih sayang, yang baru ditemukan saat
menikah Khadijah. Saat itu Nabi saw berusia 25 tahun, Khadijah sudah 40 tahun.
Sebagai isteri yang setia, Khadijah selalu memberi semangat kepada Nabi saw,
memanggil suami dengan sebutan, "Ya Habibi" (duhai kekasihku). Tidak
lama setelah Khadijah wafat, menyusul pula Abu Thalib wafat. Kafir Quraisy kian
meraja lela menganiaya Rasulullah saw.
Suatu hari beliau saw mengajak Zaid bin Haritsah pergi ke Thaif untuk
berdakwah. Thaif berjarak 60 km dari Makkah, daerah hijau dan sering hujan. Mungkin
penduduknya lebih ramah. Namun baru saja memasuki kota Thaif, sekelompok pemuda
melempari beliau saw dengan batu, hingga berdarah-darah.
Nabi saw berlari, pucat dengan tubuh yang luka-luka. Beliau saw sadar, Allah
swt masih menguji kesetiaan kekasihNya yang bernama Muhammad saw. Curhat Nabi
saw, "Ya Allah kepada Engkaulah kucurahkan segala kelemahanku, kehinaanku,
sedikit upayaku. Ya Arhamar Rahimin.
Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah. Kepada siapa aku ini Engkau
serahkan. Kepada musuh yang akan memusnahkanku atau pada teman yang menolongku.
"Apapun yang Engkau timpakan padaku, asalkan Engkau tidak murka padaku Ya
Allah, aku tak akan peduli...."
Tidak lama dari Thaif, turunlah surat Yusuf. Allah swt bercerita, ada nabi lain
yang lebih menderita. Saat usia dua tahu Yusuf dibuang saudaranya. Dipungut,
diperjual belikan, saat remaja ganteng, kena fitnah oleh Zulaikha, masuk
penjara. Puluhan tahun berpisah dengan ayahanda Ya'kub.
Barulah pada tahun ke-11 Kenabian terjadi peristiwa Isra' Mi'raj. Diperjalankan
dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu ke langit ketujuh. Dari langit
ketujuh beliau saw naik ke Shidratul Muntaha, berjumpa dengan Allah swt. Cahaya
diatas cahaya. Tapi sempat berdialog dengan Allah swt.
Memang terjadi, atas usul Nabi Mus as, minta keringanan, hingga sholat yg
tadinya 50 kali, menjadi 5 kali sehari semalam. Namun hikmah lain ada, yaitu
dukungan moril, setelah didera ujian yang bertubi-tubi sebelumnya. Tentunya
persiapan dakwah setelah hijrah ke kota Madinah.
Demikian sekilas hikmah Isra' Mi'raj, semoga berkenan.