Diberdayakan oleh Blogger.
 
Senin, 19 November 2007

Pesan

0 komentar

Pesan Buat Mahasiswa

Ngomongin mahasiswa memang gak ada matinye, karena mahasiswa itu komunitas orang-orang unik dan dinamis. Unik karena ia adalah elit pelajar, komunitas yang tercerahkan ditengah masyarakat. Sejarah mencatat, setiap ada perubahan disuatu negara pasti mahasiswa yang menjadi motor penggeraknya. Dinamis karena pada fase tersebut mahasiswa sedang mencari jati diri dan eksplorasi potensi, melakukan penguatan-penguatan intelektual, ideologi, spritual dan kafaah keilmuan, berinteraksi dengan kondisi sosial masyarakat untuk menumbuhkan jiwa kepekaan sosialnya. Terkadang ia harus menjadi 'orang tua bijak' perannya terkadang melampaui usianya ketika memberikan solusi cerdas sebagai alternatif atas permasalahan yang dihadapi masyarakat. Terkadang ia harus menjadi sosok pemuda yang agresif, meledak-ledak, tangguh, militan, jiwanya penuh gejolak ketika menyaksikan ketidakadilan dan kezaliman penguasa tiran. Disaat seperti itu ia tidak melupakan tugas pokoknya menjadi pembelajar sejati.
Makanya bersyukurlah bagi yang sudah atau sedang merasakan dunia mahasiswa, Karena nikmat menjadi mahasiswa tidak semua orang merasakannya. Kita maklum bin paham bin ngerti bin ngeh kalau biaya kuliah di negeri ini melambung ke langit dengan mutu dan kualitas yang menukik, aneh ya...! biaya tinggi tapi mutunya ecek-ecek (maaf pak menteri pendidikan bukannya melecehkan kinerja anda). Apalagi, menurut data dikoran jumlah penduduk Indonesia yang termiskinkan mencapai 60%, artinya cita-cita orang tua untuk melanjutkan kuliah anaknya ke universitas atau Perguruan Tinggi menjadi kandas.
Temen-temen pasti pernah mendengar siapa tuh Syeikh Yusuf Qardhawi, itu looh yang menulis buku best seller Fiqh Zakat yang sangat monumental, atau yang pernah mengeluarkan fatwa pas pertemuan Liga Ulama Internasional, “menyerukan kepada seluruh kaum Muslimin di dunia agar melakukan pemboikotan secara menyeluruh kepada siapa saja yang memboikot pemerintahan baru Palestina yang dipimpin HAMAS.” (infopalestina.com). Kita prihatin ya, masa di abad yang katanya modern ini masih ada negara yang dijajah, dirampas hak kemerdekaannya. Sudah dijajah di boikot pula, kan kurang ajar banget tuh zionis Yahudi, Amerika dan konco-konconya. Masih belum ngeh juga? Makanya baca karya-karya Yusuf Qardhawi dong, biar cepet konek gitu.
Dalam bukunya Yusuf Qardhawi menulis tiga pesan untuk para mahasiswa/i, yaitu :
  1. Pelajari Islam Dengan Benar
Jaman sekarang kondisinya emang beda dengan masa Rasulullah saw. Dulu sahabat yang ingin belajar Islam dengan benar (kaffah) harus ngumpet-ngumpet.karena resikonya siksaan bahkan mungkin nyawanya menjadi taruhan, hanya sekedar mendengarkan satu atau dua ayat dari Rasulullah saw. Sekarang eranya transparansi (keterbukaan) mau ngaji gampang, kajian keislaman menjamur, tidak ada tekanan dari pemerintah. Artinya peluang untuk menuntut hak kita yaitu hak untuk memperoleh kebajikan (hak ngaji) mudah dicari, tinggal kitanya mau apa gak? Seorang Ulama berkata : “Tarbiyah madal hayah” menuntut ilmu itu sampe mati, nah looh..! fren, buka rahasia dikit neh, simak saja hasil wawancara penulis (ceilee..!) dengan mereka-mereka yang sudah merasakan nikmat Tarbiyah (ngaji gitu) dikampus kita tercinta dan di kampus luar sono, begitu terkesan, “Ketika ane ngikutin secara rutin kajian ini (mentoring/ta'lim/liqo'-red.) hati ane lebih tenang, dan lebih mantap berkomitmen dengan Islam, visi dan misi hidup lebih jelas dan terarah.” ujar mahasiswa yang tidak mau disebutin namanya ini. “Dalam tarbiyah nikmat ukhuwah (persaudaraan) lebih terasa, dalam mengkaji keislaman ada marhalah (tahapan) terprogram dan terencana, sehingga ketika kita menerima materi ilmu dari murobbi (guru) tidak membebankan.”(sambung mahasiswa yang berasal dari tetangga jauh kampus kita).
Makannya rugi kalo kita membuang kesempatan emas ini, kesempatan ini gak bakalan kita dapeti lagi, pas kita sudah jompo alias tinggal menunggu malaikat maut menjemput nyawa kita. “Dunia ini adalah ladang amal” (kata Al-Ghozali dalam kitab Ihya ulumuddin). Makanya mumpung kita masih muda dan enerjik, cari tuh amalan-amalan ibadah yang dapet nyelamatin kita dari api neraka. Nyarinya dimana? Mana lagi kalo gak di komunitas kajian keislaman (LDK, Rohis, DKM Masjid, atawa forum kajian yang cocern dengan Islam).
Tapi ente juga jangan asal-asalan ikut kajian yang belum jelas. Fren, ente kudu ati-ati, sekarang banyak tuh kajian yang bikin error tuh otak, maksude kajian yang mengasong penyakit SEPILIS (Sekulerism, Pluralism, Liberalism). Itu tuh kajian yang suka ngacak-acak syariat Islam dan Al-Quran. Contoh lembaganya adalah JIL (Jaringan Islam Liberal) yang dapet dana dari Asian Foundation milik negara 'Mbah sam' (AS). JIL itu topengnya sih Islam tapi pikiran-pikirannya Abdullah bin Ubay itu looh tokoh Yahudi pada jaman Rasulullah saw. Saya saranin kalo ingin ikutan kajian keislaman mending yang jelas, yang didalamnya ada keikhlasan untuk mengkaji Islam secara syamil mutakkamil (integral, konpeherensif, holistik) yang bikin hidup kita lebih hidup...eeh mulia ding.
2. Mendakwahkan
kalau kita sudah mendapat transformasi keilmuan dari murobbi (pementor) maka kita berkewajiban menyampaikan kebenaran Islam pada keluarga dan teman-teman kita, dengan harapan untuk memperbesar atau memperbanyak kebaikan-kebaikan dan memperkecil keburukan-keburukan di masyarakat. Ilmu yang dimandegin cepet ilang. Makannya jangan dinikmati sendiri, kata orang bijak, “ilmu yang tidak diasah mudah tumpul.”
Paradigma kudu dirubah, tugas menyampaikan kebenaran bukan hanya monopoli ulama atau kiyai an-sich, kata para mujahid dakwah, “setiap kita adalah da'i.” makanya sebagai mahasiswa kudu perluas dan bentangkan cakrawala dan tsaqofah Islamiyah kita, jangan sampai dicap mahasiswa yang tulalit (maaf ya). Frend, setiap kata yang keluar dari mulut para penyeru dakwah lebih tinggi dari kalimat-kalimat yang lainnya, itu kata Allah sendiri dalam Al-qur'an. Makanya ada Ulama besar yang mengatakan, “seandainya para raja-raja di dunia ini mengetahui nikmat berdakwah, niscaya mereka akan kerahkan semua pasukannya untuk merebut nikmat dakwah dari para penyeru dakwah.” maka beruntunglah bagi orang-orang yang dipilih oleh Allah SWT sebagai penerus pekerjaan Rasulullah saw. Tapi jalan dakwah itu tidak mulus dan panjang, penuh dengan tanjakan, tikungan dan lubang. Kalau kita tidak sabar dan hati-hati maka akan menjadi pecundang dan 'yang berguguran dijalan dakwah'. Innalilahi. Minimal ketika kita bergabung dengan komunitas perubahan akan mendapat 'bumbu-bumbu dakwah' berupa caci maki, intimidasi, dan teror (dicap eksklusif, sok alim, tidak gaul(?)).
Frend, masih inget sobat Rasulullah saw Mus'ab, itu loh pemuda elit perkotaan yang parlente bin tajir dan ganteng, kalau berpakaian sangat indah dan bajunya selalu harum dengan wewangian kelas bangsawan. Setiap wanita selalu terpesona dengan ketampanannya dan menjadi rebutan para gadis elit perkotaan. Ibunya mengancam dan memboikot tidak akan makan sebelum Mus'ab kembali ke agama moyangnya, tapi apa kata Mus'ab, “seandainya Ibu memiliki seratus nyawa, dan setiap nyawa ibu keluarkan satu-persatu, saya tidak akan meninggalkan agama Muhammad.” mus'ab diusir dari keluarganya, meninggalkan kemewahan dunia dan memilih bergabung dengan gerbong reformasi Rasulullah saw. Makanya kita jangan berkecil hati kalau kita mendapatkan caci maki, celaan karena kita yakin bahwa mereka belum tahu kalau bergabung dengan para penyeru dakwah itu nikmat buaangeeet. Frend, jangan ngomongin agent of change kalau untuk merubah diri sendiri saja belum mampu. Bagaimana mau merubah masyarakat dan negara kalau kitanya sendiri masih bagian dari masalah..nah loh. Makanya tarbiyah dzatiyah (memperbaiki diri) harus terus di jalankan, sehingga kita akan istiqomah dijalan dakwah untuk merampungkan perubahan yang belum tuntas.
3. Sinergi
untuk melakukan perubahan besar tidak bisa dilakukan oleh segelintir orang apalagi sendirian, atau orang-orang yang tak beraturan, tapi dibutuhkan orang-orang yang ikhlas dalam berjuang dan beramal jamai. Ibarat sapu lidi, sapu lidi yang berserakan mudah dipatahkan, tetapi sapu lidi yang digabungkan jadi satu dan diikat dengan tali yang kuat akan menjadi kokoh dan tidak mudah dipatahkan. Begitu juga dengan potensi umat Islam apabila digabungkan menjadi gerakan amal jamai dan di ikat dengan ikatan Allah yang kuat maka cita-cita tegaknya keadilan di dunia dengan syariat Allah sebagai undang-undangnya, dan Islam menjadi soko guru dunia cepat tercapai.
Sudah saatnya ummat ini harus sadar, keuntungan gerakan amal jamai atau bersinergi sangat berdampak luas bagi ummat Islam dunia. Kita tidak akan mendengar lagi seorang pelajar muslimah dilarang untuk menutup auratnya (sampai tulisan ini diketik, ada pelajar muslimah di Jawa Timur harus menanggalkan jilbabnya untuk mengikuti seleksi paskibraka, di Somalia ada sweping jilbab bagi para Muslimahnya oleh pemerintah setempat/Sabili, edisi Mei 2007)...masih ada saja otak-otak error yang melarang muslimah menjalankan kewajibannya. Kita tidak akan mendengar lagi cerita ummat Islam dihinakan, di injak-injak harga diri dan bangsanya, kita tidak akan mendengar lagi jeritan anak-anak Afganistan, Checnya, Irak, Pathani, Palestina. Mereka para agresor dengan enaknya memperkosa masa depan, harga diri dan kehormatan para generasi muslim. Tapi selama ummat ini belum bisa bersatu, maka kita seperti ummat yang digambarkan oleh Rasulullah saw, “ummat Islam seperti hidangan yang diperebutkan oleh ummat lain.” ya, sekarang ummat islam sedang tercabik-cabik dan dihinakan. Ini tugas semua ummat Islam untuk mengembalikan kejayaan islam, dan tentu mahasiswa harus berdiri digarda depan dan menjadi kasalitator dalam melakukan rekayasa sosial dan mengawal ummat ini menuju perubahan dan kemenangan Islam. Ummat menunggu 'Musa-Musa muda' untuk menumbangkan para rezim tirani thogut yang selalu bikin kerusakan dimuka bumi. Wallahu a'lam.

Entri Populer

 
News & Artikel Abu Hylmi © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here