Diberdayakan oleh Blogger.
 
Rabu, 28 November 2007

kenali dirimu !

1 komentar

Kenalilah Dirimu…!!

Artinya engakau harus mengenali bakat atau potensi yang diberikan Allah SWT kepadamu. Lalu, memanfaatkan sesuai dengan kodratnya masing-masing, baik dalam bentuk ilmu, amal maupun pekerjaan. Karena batapapun setiap orang mengetahui tempat minumnya, dan setiap manusia di bumi ini bermacam-macam jenisnya.

Orang yang berakal dan berfikir akan berhasil menguasi bidang yang digelutinya dengan tekun dan istikomah. Seseorang bisa karena biasa, barang siapa memperhatkan kehidupan para sahabat Rasululah, niscaya akan medapati bahwa setiap diri mereka memiliki keunggulan dibidang masing-masing. Abu Bakar menjadikan ghanimah menjadi satu bagian. Akan tetapi, dalam menjalankan roda kekhalifahan dan kepemimpinan, ia menjalankannya dengan adil, zuhud, ikhlas dan jujur.

Umar bin Khatab, keras terhadap musuh-musuhnya dan adil dalam pemerintahannya. Utsman seorang yang penyayang, selalu tahajud dan sedekah, baik dengan sesama, pemalu dan lembut. Dan Ali seorang yang berani, tagas, dan bicaranya lembut, cerdas, dan menguasai ilmu agama dengan baik.

Ubay tuan para fakir miskin, mu’azdz penghulu para ulama, Khalid panglima perang terkemuka, Ibnu Abbas penafsir Al-qur’qn ternama, Hasan tokoh kebanggan para penyair, Zaid ibnu Tsabit ulama faraid terbesar, Abu Hurairah guru periwayat hadis terkemuka, guru para penafsir hadist.

Maka, pahamilah dirimu dan tekunilah kemahiran, pengalaman, pekerjaan, dan kehidupanmu.

Buku bisa menganjurkan hal-hal yang bijak, namun ia tidak pernah melahirkan orang-orang bijak. Orang-orang yang istimewa dalam hal ilmu dan seni tidak hanya belajar di sekolah formal, namun mereka juga belajar disekolah kehidupan.

Buku tentang bicara berenang memang menguraikan cara-cara berenang yang baik, namun ia tidak dapat mejadikan orang yang tidak bisa berenang selamat dari berenang. Jalan keluar yang paling baik adalah turun kesungai dan belajar langsung didalamnya.

Jika engkau ingin menjadi pakar dibidang tertentu, baik dalam bidang keilmuan, pekerjaan maupun ketrampilan, selamilah dirimu dahulu, larutlah didalamnya. Sebab, semua manusia merindukan yang sesuatu pasti akan berusaha keras meraihnya sendiri sebagaimana dikatakan dalam syair berikut :

Lelaki sejati adalah orang yang

Tiada butuh kepada lelaki lain.

Jangan pernah berfikir bahwa semua kesuksesan akan mendatangkan keuntungan materiil yang melimpah di atas piring emas. Sebab, kemenangan terburuk adalah justru kemenangan yang diukur dengan keuntungan duniawi :

Kemenangan yang terburuk adalah kemenangan orang bodoh,

Yang mengukurnya dengan hasil dagangannya

Kesuksesan yang berharga adalah kesuksesan yang diraih dengan bekerja keras, keringat, kesulitan, air mata, darah, begadang, lelah, perjuangan dan pengorbanan. Abu Thayyib berkata :

Kalau tidak ada kesulitan, semua manusia pasti bahagia,

Kemuliaan itu dicari, keberanian itu butuh pengorbanan

Air yang tergenang pasti berbau busuk dan berubah rasanya. Namun, jika mengalir, ia akan jernih dan segar rasanya.

Seorang penyair berkata ;

Engkau ingin mencapai kemuliaan dengan mudah

Tentu saja engkau harus mersakan sengatan lebah

Maka bersegeralah sebelum engkau tutup usiamu !

Dan ingatlah bahwa tidak ada kata untuk istirahat

Siang dan malam :

Jangan katakan : anak muda masih panjang jalannya

Renungkanlah, berapa anak muda yang telah kau kubur.

Sumber : Rahasia sukses orabg-orang besar

Read more...
Rabu, 21 November 2007

Ciri-ciri guru sukses

0 komentar

Ciri-ciri Guru Yang Sukses

  • Diteladani, disegani, dicintai, dan dihormati oleh murid-muridnya.
  • Ikhlas dalam mengajarkan ilmu-ilmunya, memiliki yang kuat untuk memberi manfaat yang terbaik untuk murid-muridnya, dan berusaha keras mengantarkan mereka pada ketinggian derajat orang-orang yang berilmu.
  • Tidak berperilaku menakutkan, tidak bersikap kasar, senantiasa menyayangi murid-muridnya dan merekapun menyayanginya.
  • Tekun memperdalam bidang keahlian dan perhatiannya, menonjol dibidangnya, dan menguasai seluruh materinya dengan baik.
  • Rajin mengkaji, berwawasan luas, mengenal baik adat dan budaya masyarakatnya, dan memahami betul permasalahan-permasalahan umatnya.
  • Bersemangat dalam menyampaikan ilmu, memberi motofasi kepada murid-muridnya, dan selalu ramah dan ceria dihadapan mereka.
  • Tertib, tepat dalam janji-janjinya, dan rapih dalam setiap pekerjaannya.
  • Menjauhi hal-halo yang syuhat (meragukan), meninggalkan setiap perilaku yang buruk, dan bersifat tepuji dalam segala hal.
  • Tidak larut dalam canda, kelalaian, kebodohan, perkataan kotor, dan hanya bertutur kata dengan lembut dab santun.

(diambil dari buku: Rahasia Sukses Orang-orang Besar, DR. ‘Aidh-Al Qarni).

Read more...

dimana posisi pemuda?

0 komentar

Dimanakah Idealisme pemuda?

Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.”

Itu adalah sebuah kutipan dari seorang mahasiswa demonstran yang mati muda. Dikutip ketika akan memimpin pendakian ke gunung slamet 3.442 mdpl.

Apa yang di harapkan mahasiswa ketika ia selesai menamatkan kuliahnya. Memulai hidup baru dengan meninggalkan jubah idealismenya yang sempat tertanam kuat ketika menjadi seorang mahasiswa. Apa yang dirasakan kita ketika masih menjadi mahasiswa ?. Dekat dengan rakyat ?. Memang sebagian dari teman-teman kita sudah berubah paradigmanya. Banyak dari teman-teman kita yang kehilangan azzam, semangat, empati dan pengorbanan ketika jaket almamaternya ditanggalkan dan mendapat selembar ijzah.

Sungguh semua potensi yang ada pada masa kuliah terkikis habis seiring dengan berakhirnya masa kulaihnya. Kenikmatan duniawi merubah orientasi hidupnya, harta dunia, istri yang cantik, pekerjaan yang mapan mampu melenakan dan menenggelamkan idealismenya. Teriakan-teriakan perjuangan dan perlawanan terhadap kezaliman dan penindasan ketika menjadi aktivis tidak terdengar lagi, sunyi sepi dan menghilang perlahan. Apakah idealisme dan semangat perjuangan umurnya hanya sebatas masa kuliahnya? Tidak kawan..! cita-cita perjuangan tidak dibatasi oleh umur dan study kita, tetapi semua itu ada tahapan dalam setiap fasenya, hingga dunia ini selesai pada masanya (kiamat). Aktivis sejati tidak hanya berhenti pada amal thulabi, setelah belajarnya selesai berakhir pula tugas perjuangannya.

Mana yang katanya agent of change? Pembela rakyat yang termiskinkan. Mana penyalur aspirasi rakyat? Mana pembela ketidakadilan, oposisi kebatilan? Rakyat hari ini makin sekarat dan memprihatinkan, para penguasa ambisius semakin menjadi-jadi mempermainkan rakyatnya, rakyat dibiarkan bergelimpangan dalam kesengsaraan. Kebijakan-kebijakan tak sedikitpun yang memihak rakyat, para pemimpin berubah menjadi fir’aun-fir’aun modern yang menghisap darah rakyatnya sendiri.

Pada situasi seperti itu dimana posisi anda sekarang? Apakah sedang asyik-masyuk dengan kesenangan dunia? Dimana posisimu wahai pemuda? Dimana Musa-musa muda itu? Dimana teriakan lantangmu dulu yang tidak kan tenang melihat rakyat dizalimi. Dimana daya kritismu terhadap kebijakan ‘zalim’. Dimana langkahmu kini yang dulu selalu bersama rakyat jelata berbagi rasa, mendengarkan keluhannya. Dimana derap langkahmu dulu dalam mendobrak kelaliman dibawah teriknya matahari.

Semua itu kini menjadi kenangan manis tersimpan rapih dalam memori perjalanan kehidupan. Mampukah pemuda dapat kembali melanjutkan perlawanan itu? Bangkit dari tidur panjang keterlenanaan..!


Untuk itu saya mengundang teman-teman sekalian untuk kembali dekat dengan rakyat, rasakan apa yang sedang rakyat rasakan saat ini. Jadilah manusia tertinggi di Jawa Tengah untuk melakukan pendakian Gunung Slamet yang insya Allah akan di laksanakan pada 21-25 Desember 2007. bersama kafilah pemuda, yang sedang belajar pada alam kehidupan. Belajar arti persahabatan dan persaudaraan, belajar tentang kebersamaan, kepedulian, team work (amal jamai), belajar sabar, belajar untuk siap menanggung beban hingga sampai puncak tujuan (cita-cita). Belajar untuk takafur alam, merenung dan melihat kebesaran akan ciptaan Allah SWT, bahwa kita adalah mahluk kerdil yang tidak pantas untuk sombong.

Wahai alam ajarkan pada kami untuk lebih dekat pada-Nya…

Wahai gunung yang perkasa, ajarkan pada kami…

Tentang keteguhan dan kekokohan akan sikap keberanian,

Mendobrak kebatilan yang kain menguasai kehidupan..

Digunung kita akan merasakan hidup sulit yang sebenarnya, jauh dari fasilitas enak. Kita melatih diri kita untuk bisa bertahan hidup jauh dari peradaban.

Salam anak gunung dari kafilah pemuda…sang pendobrak kezaliman

Oposisi kebatilan…

Read more...
Selasa, 20 November 2007

Tidak Boleh Nitip Absen

1 komentar

Tidak Boleh “Nitip”Absen

Bukan rahasia bahwa system kehadiran (absen) di universitas atau perguruan tinggi menjadi kebijakan yang paling digusarkan mahasiswa. Para mahasiswa sering kali merasa bahwa ide kreatif dan gerak langkah mereka terbelenggu oleh pihak kampus.
Mahasiswa adalah agen of change. Konon, itulah mantera pusaka yang sering di dengungkan oleh para dedengkot kampus pada waktu mahasiswa angkatan baru menjalani masa proses orientasi kampus. Sekian semester kemudian, para mahasiswa itu baru tersadar bahwa jangkan mengubah bangsa ini, tercebur dalam pergerakan kampus pun mereka akan menghadapi segudang resiko.
Semenjak Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK) di gulirkan oleh rezim Orba, mahasiswa seperti kelilangan nyali. Mereka disibukkan oleh sejumlah Kredit mata kuliah (Sistem Kredit Semester/SKS) yang harus diselesaikan. Segudang regulasi, konon katanya demi menegakkan kedisplinan dan mengikuti peraturan serombongan birokrat kampus, yang lebih condong pada kapitalisasi pendidikan.
Mau tahu regulasi mana yang cukup keras ditentang oleh mahasiswa? Presensi atau absensi atau apalah namanya. Absensi yang sangat ketat mengharuskan mereka menghadiri 80% dari total pertemuan mata kuliah tiap semesternya.
Jadi, jika ada 14 kali pertemuan. Mahasiswa punya “hak” tidak masuk empat kali. Lebih dari itu? Selamat berjumpa kembali di semester berikutnya, di mata kulaih yang sama.
Sudah jelas mengapa absensi membelenggu mahasiswa? Pergulatan mahasiswa dalam proses kehidupan social tentu butuh waktu yang bukan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Ada aktualisasi diri, filterisasi nilai, dan transformasi pemahaman dalam proses tersebut.
Tentu butuh waktu yang cukup banyak. Butuh penceburan yang lebih lagi dari para mahasiswa itu.
Mahasiswa sebetulnya paham bahwa ketidak hadiran dalam proses kuliah sangat potensial membuat mereka tertinggal materi. Sebaliknya, mereka juga sadar ketika mengambil resiko tidak masuk. Mengapa? Karena yakin mampu mengejar ketertinggalan materi.
Simak saja kutipan pendapat seorang mahasiswa yang cukup “tidak suka” dengan kebijakan absensi ini. “kalo ujian, tugas segala macem mah bisa gue beresin. Gue kan nggak bego. Tapi kalo absen berpengaruh sama kelulusan mata kuliah, ya gue keteter juga.”
Si pencetus pendapat ini adalah mahasiswa yang dengan proaktif berjuang kulaih sambil bekerja. Mau tahu berapa banyak mahasiswa yang merasakan dan megalami hal serupa? Kita butuh sensus nasional untuk medapatkan data yang cukup valid.

Maha Pelajar

Mahasisw secara etimologi adalah maha pelajar alias pelajar yang punya title maha, pelajar besar. Maha pelajar toh tidak hanya belajar di kampus. Tidak hanya belajar sekian teori lewat buku dan diktat. Tetapi juga memahami realitas, belajar dari situasi dan menelurkan solusi lewat analisa kondisi. Sepakat? Solusi apa yang bisa lahir dari mahasiswa yang CUMA BISA NGENDON di kampus?
Sejarah mungkin saja bisa mencatat bahwa perbudakan akan melahirkan perlawanan. Akankah sejarah mencatat lagi perlawanan intelektual para mahasiswa Indonesia uang di belenggu oleh rantai pembodohan yang sistemik?
Absensi tidak pernah mencerdaskan kehidupan bangsa, absensi hanya bisa menciptakan mahasiswa pintar. Pintar bermain curang menitipkan absen dengan memanfaatkan kelengahan dosen yang tidak teliti menghitung jumalah mahasiswa. Pintar memanfaatkan absensi agar Full supaya lulus mata kuliah dengan nilai gemilang. Kita lupa esensi dari daftar hadir. System kehadiran di buat sedemikian rupa agar mahsiswa merasa hadir adalah sebuah harga mati. Sitem kehadiran tidak di arahkan sebagai proses pembentukan sikap yang benar-benar sadar nilai sebuah tanggung jawab untuk hadir.
Sadar nilai sebuah kedisiplinan. Bukan disiplin lewat proses “beoisasi”, melainkan sebuah kesadaran utuh yang telah melewati proses tahap eksplorasi pikiran dan perenungan panjang yang akhirnya membentuk kesadaran berprilaku.
Laikkah anak-anak muda itu mati daya kreasinya karena absen ketat? Pantaskah para mahasiswa tak dapat bekerja paruh waktu karena system presensi? Patutkan generasi pembaharu ini kehilangan gairah juang hanya gara-gara daftar hadir?
Satu hal lagi yang perlu kita cermati bersama. Kebijakan absensi itu juga sering membuat mereka diperlakukan tidak adil. Betapa tidak, mahasiswa cerdas ini justru mendapatkan penghargaan, berupa mendaptkan nilai yang lebih kecil, dari pada renkan mereka yang lain., yang mungkin tak secerdas dan sekreatif mereka, dan mungkin tidak menguasai materi kulah sebaik mereka. Namun, rekan-rekan mereka yang tergolong jauh lebih “pintar” memanfaatkan system absensi untuk mendongkrak nilai akademis.
Ini PR buat anasir-anasir yang terkait dengan sitem absensi di universitas. Buka mata lebar-lebar, saksikan bahwa system absensi itu menyulitkan mahasiswa. Buka kalbu dalam-dalam, rasakan bahwa system presensi itu memasung idealisme mahasiswa. Ingat, ibarat tubuh manusia, system pendidkan nasional yang sudah kronis stadium 4 ini harus segera diobati.
Jangan terjebak dalam paradigma sesat pikir yang judulnya “tidak usah mencari siapa yang salah”. Untuk mencari obat yang pas, harus dikenali betul bagian mana yang menjadi sumber primer penyakit, dan sumber sekunder penyakit.
Sumber : koran suara pembaharuan
Read more...

Merenung

0 komentar

“Merenung Di Usia 62 Tahun”

Sudah 62 tahun Indonesia merdeka. Hingar bingar aktivitas untuk menyambut ulang tahun Bangsa Indonesia terjadi di seantreo negeri. Mulai dari bersih-bersih lingkungan, menghias gapura, sejumlah instansi pemerintah juga dihiasi dengan atribut merah putih, serta berbagai perlombaan di sekup RT.
Jika disetarakan dengan usia manusia, Indonesia sudah cukup tua usianya. Namun nikmat kemerdekaan belum sepenuhnya dapat dirasakan oleh rakyat indonesia. Banyak sekali anak bangsa ini belum merasakan makna dari 62 tahun Indonesia merdeka. Lihat saja banyak sekali anak-anak negeri ini harus putus sekolah karena biaya sekolah sangat mahal. rakyat menunggu sampai kapan anak-anak negeri ini dapat masuk ke lembaga-lembaga pendidikan dengan gratis, dapat menikmati belajar dengan tenang untuk bekal di masa depan dengan harapan dapat merubah kehidupan menjadi lebih baik. Sudah 62 tahun Indonesia merdeka, pendidikan masih menjadi masalah serius, kita berharap dari peringatan kemerdekaan ini pendidikan Indonesia semakin maju, dan anak bangsa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.
Pembangunan tidak diorientasikan pada peningkatan mutu pendidikan, tetapi lebih pada pembangunan yang berorientasi pada perut. Padahal pendidikan merupakan tolak ukur dari peradaban sebuah bangsa. Bangsa ini akan selamanya menjadi bangsa yang dianggap rendah oleh bangsa-bangsa lain. Selama bangsa ini tidak memprioritaskan dan menghargai dunia pendidikan.
Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang dijanjikan tidak sepenuhnya sampai ketujuan yang berhak, karena sekitar 60% masuk ke kantong-kantong oknum. Apalagi realisasi 20% dari APBN masih jauh panggang dari api, pemerintah belum serius untuk merealisasikannya, dengan alasan belum realistis. Tetapi bagaimana dengan anggaran-anggaran yang kurang bermanfaat untuk perbaikan bangsa? dengan mudahnya pemerintah menganggarkannya.
Pemerintah mengklaim bahwa angka pengangguran sudah berkurang. Namun dengan melihat fakta kasus lumpur Lapindo dan kasus PHK di perusahaan lainnya? Akibat dari kasus tersebut betapa banyak karyawan yang stres, ingin bunuh diri. Pemerintah seolah-olah tutup mata, belum memberikan solusi atau kebijakan yang dapat mengobati hati rakyat yang terluka.
Rakyat semakin hari selalu dihadapkan dengan permasalahan yang tidak menguntungkan. Perannya dalam negara semakin terasa tidak jelas karena selalu kalah oleh lindasan kekuasaan zalim. Masalah TKI yang tidak jelas penyelesaiannya, mereka hanya “diperas” oleh negara untuk pendapatan devisa negara, tetapi ketika terjadi permasalahan yang menimpa TKI/ TKW pemerintah tidak sigap dan seolah-olah tidak peduli. Betapa pilu para pendahulu kita jika melihat anak cucunya terlunta-lunta dan tersiksa menjadi kuli kasar di negeri orang. Mereka terpaksa melakukan semua itu karena negerinya yang subur makmur tidak dapat memberikan lahan-lahan untuk berkarya dengan membuka lapangan kerja produktif.
Belum lagi masalah penggusuran yang tak kunjung usai. Bagi pedagang kaki lima penggusuran menjadi monster yang menakutkan. Karena alasan keindahan kota masyarakat kecil di tindas semaunya tanpa kompromi, tanpa melihat kesusahan rakyat yang memang sudah sekarat. Pemerintah belum mau merangkul mereka agar mereka tenang dalam berdagang dan mampu bertahan hidup. Alasan keindahan kota adalah keharusan, tetapi memberikan rasa nyaman dan merdeka bagi rakyat kecil adalah keharusan lain yang harus menjadi prioritas utama pemerintah.
Fenomena demikian terjadi akbat penghianatan terhadap kedaulatan rakyat. Amanah diberikan namun kepercayaan tetap disia-siakan. Masih alergi kritik, karena mengharapkan pujian. Di depan rakyat menebar janji untuk memberikan hak rakyat yang teramanatkan oleh undang-undang. Ketika rakyat terlena prinsip-prinsip kolusi lah yang mendasari aktivitas mereka
Dimana letak kemerdekaan? Apakah hanya ketika memperingati hari kemerdekaan dengan upacara bendera saja?

Merenung

Kemerdekaan di perjuangkan dan dipertahankan oleh rakyat dengan cucuran keringat serta tetesan darah, pekikan takbir senantiasa mengiringi langkah perjuangan para pendahulu kita, “Merdeka atau Mati Syahid” adalah semboyannya. Para pendahulu kita rela mengorbankan harta dan nyawa demi tegaknya kemerdekaan demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.
Tapi bagaimana dengan anak cucu bangsa ini untuk mengisi ruang kemerdekaan. Betapa banyak anak negeri ini yang mengisi hari kemerdekaan dengan sesuatu yang justru membuat murka Allah. Bangsa ini melupakan akan hakikat dari kemerdekaan ini adalah pemberian kasih sayang dan karunia dari Allah SWT.
Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar disebutkan, “atas berkat rahmat Allah yang Maha Pemurah dan Penyayang”, ini memberi penegasan bahwa bangsa Indonesia tidak akan merdeka tanpa campur tangan Allah SWT. Tapi bagai mana kita mensyukuri nikmat kemrdekaan ini, fenomena yang terjadi justru banyak aktivitas yang bertentangan dengan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT.
Syukur vs Sukur
Syukur dengan Sya besar artinya berterima kasih atas pemberian Allah SWT, sedangkan Sukur dengan Sa kecil berarti Mabuk-mabukan. Jadi selama ini, sejak Indonesia merdeka sampai yang ke 62 tahun, memaknai hari kemerdekaan di isi dengan kegiatan ‘sukur bersama’ (mabuk-mabukan bersama-sama), aktivitas yang justru jauh dari kata syukur. Pantas saja bangsa Indonesia selalu dilanda berbagai bencana karena Allah SWT yang Maha Sayang pada rakyat Indonesia ingin memperingatkannya, agar bangsa ini tidak kufur nikmat.
Seharusnya untuk menyambut hari kemerdekaan banyak dilakukan perenungan tentang perjalanan bangsa Indonesia, banyak mengucapkan syukur dengan melakukan zikir, tahmid dan tahlil, mengagungkan akan kebesaran Allah SWT. Kalau bangsa ini ingin keluar dari berbagai problema yang melanda, maka harus ada perubahan yang signifikan dari seluruh rakyat, kita jangan hanya menghujat dan mengkritik pemerintah saja. Tetapi diri kita juga banyak masalah secara vertikal dengan Allah SWT. Salah satu perubahan itu adalah dengan melakukan Taubatan nasuha, “tubu Ilallah taubatan nasuha” yang artinya “taubatlah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat” mulai dari sekup yang terkecil (lingkungan RT), dari lingkungan RT di giatkan untuk melakukan aktivitas yang positif. Karena selama ini baik pemerintah maupun rakyatnya bersama-sama melakukan aktivitas yang justru mendatangkan kemurkaan Allah SWT, yang memimpin tidak amanah, kemudian yang di pimpin gemar bermaksiat.
Jadikan momen 62 tahun Indonesia merdeka untuk memperbaiki kondisi bangsa ini. Jangan sampai di usia yang sudah tua ini, bangsa Indonesia ‘tidak cerdas’ dalam bersyukur kepada Allah SWT. Jangan sampai di usia yang cukup tua ini tidak pernah dewasa dalam mensikapi permasalahan bangsa. Sehingga tidak pernah keluar dari lingkaran keterpurukan bangsa karena anak cucu dari bangsa ini telah lupa akan hakikat kebesaran Allah SWT.
Read more...
Senin, 19 November 2007

Pesan

0 komentar

Pesan Buat Mahasiswa

Ngomongin mahasiswa memang gak ada matinye, karena mahasiswa itu komunitas orang-orang unik dan dinamis. Unik karena ia adalah elit pelajar, komunitas yang tercerahkan ditengah masyarakat. Sejarah mencatat, setiap ada perubahan disuatu negara pasti mahasiswa yang menjadi motor penggeraknya. Dinamis karena pada fase tersebut mahasiswa sedang mencari jati diri dan eksplorasi potensi, melakukan penguatan-penguatan intelektual, ideologi, spritual dan kafaah keilmuan, berinteraksi dengan kondisi sosial masyarakat untuk menumbuhkan jiwa kepekaan sosialnya. Terkadang ia harus menjadi 'orang tua bijak' perannya terkadang melampaui usianya ketika memberikan solusi cerdas sebagai alternatif atas permasalahan yang dihadapi masyarakat. Terkadang ia harus menjadi sosok pemuda yang agresif, meledak-ledak, tangguh, militan, jiwanya penuh gejolak ketika menyaksikan ketidakadilan dan kezaliman penguasa tiran. Disaat seperti itu ia tidak melupakan tugas pokoknya menjadi pembelajar sejati.
Makanya bersyukurlah bagi yang sudah atau sedang merasakan dunia mahasiswa, Karena nikmat menjadi mahasiswa tidak semua orang merasakannya. Kita maklum bin paham bin ngerti bin ngeh kalau biaya kuliah di negeri ini melambung ke langit dengan mutu dan kualitas yang menukik, aneh ya...! biaya tinggi tapi mutunya ecek-ecek (maaf pak menteri pendidikan bukannya melecehkan kinerja anda). Apalagi, menurut data dikoran jumlah penduduk Indonesia yang termiskinkan mencapai 60%, artinya cita-cita orang tua untuk melanjutkan kuliah anaknya ke universitas atau Perguruan Tinggi menjadi kandas.
Temen-temen pasti pernah mendengar siapa tuh Syeikh Yusuf Qardhawi, itu looh yang menulis buku best seller Fiqh Zakat yang sangat monumental, atau yang pernah mengeluarkan fatwa pas pertemuan Liga Ulama Internasional, “menyerukan kepada seluruh kaum Muslimin di dunia agar melakukan pemboikotan secara menyeluruh kepada siapa saja yang memboikot pemerintahan baru Palestina yang dipimpin HAMAS.” (infopalestina.com). Kita prihatin ya, masa di abad yang katanya modern ini masih ada negara yang dijajah, dirampas hak kemerdekaannya. Sudah dijajah di boikot pula, kan kurang ajar banget tuh zionis Yahudi, Amerika dan konco-konconya. Masih belum ngeh juga? Makanya baca karya-karya Yusuf Qardhawi dong, biar cepet konek gitu.
Dalam bukunya Yusuf Qardhawi menulis tiga pesan untuk para mahasiswa/i, yaitu :
  1. Pelajari Islam Dengan Benar
Jaman sekarang kondisinya emang beda dengan masa Rasulullah saw. Dulu sahabat yang ingin belajar Islam dengan benar (kaffah) harus ngumpet-ngumpet.karena resikonya siksaan bahkan mungkin nyawanya menjadi taruhan, hanya sekedar mendengarkan satu atau dua ayat dari Rasulullah saw. Sekarang eranya transparansi (keterbukaan) mau ngaji gampang, kajian keislaman menjamur, tidak ada tekanan dari pemerintah. Artinya peluang untuk menuntut hak kita yaitu hak untuk memperoleh kebajikan (hak ngaji) mudah dicari, tinggal kitanya mau apa gak? Seorang Ulama berkata : “Tarbiyah madal hayah” menuntut ilmu itu sampe mati, nah looh..! fren, buka rahasia dikit neh, simak saja hasil wawancara penulis (ceilee..!) dengan mereka-mereka yang sudah merasakan nikmat Tarbiyah (ngaji gitu) dikampus kita tercinta dan di kampus luar sono, begitu terkesan, “Ketika ane ngikutin secara rutin kajian ini (mentoring/ta'lim/liqo'-red.) hati ane lebih tenang, dan lebih mantap berkomitmen dengan Islam, visi dan misi hidup lebih jelas dan terarah.” ujar mahasiswa yang tidak mau disebutin namanya ini. “Dalam tarbiyah nikmat ukhuwah (persaudaraan) lebih terasa, dalam mengkaji keislaman ada marhalah (tahapan) terprogram dan terencana, sehingga ketika kita menerima materi ilmu dari murobbi (guru) tidak membebankan.”(sambung mahasiswa yang berasal dari tetangga jauh kampus kita).
Makannya rugi kalo kita membuang kesempatan emas ini, kesempatan ini gak bakalan kita dapeti lagi, pas kita sudah jompo alias tinggal menunggu malaikat maut menjemput nyawa kita. “Dunia ini adalah ladang amal” (kata Al-Ghozali dalam kitab Ihya ulumuddin). Makanya mumpung kita masih muda dan enerjik, cari tuh amalan-amalan ibadah yang dapet nyelamatin kita dari api neraka. Nyarinya dimana? Mana lagi kalo gak di komunitas kajian keislaman (LDK, Rohis, DKM Masjid, atawa forum kajian yang cocern dengan Islam).
Tapi ente juga jangan asal-asalan ikut kajian yang belum jelas. Fren, ente kudu ati-ati, sekarang banyak tuh kajian yang bikin error tuh otak, maksude kajian yang mengasong penyakit SEPILIS (Sekulerism, Pluralism, Liberalism). Itu tuh kajian yang suka ngacak-acak syariat Islam dan Al-Quran. Contoh lembaganya adalah JIL (Jaringan Islam Liberal) yang dapet dana dari Asian Foundation milik negara 'Mbah sam' (AS). JIL itu topengnya sih Islam tapi pikiran-pikirannya Abdullah bin Ubay itu looh tokoh Yahudi pada jaman Rasulullah saw. Saya saranin kalo ingin ikutan kajian keislaman mending yang jelas, yang didalamnya ada keikhlasan untuk mengkaji Islam secara syamil mutakkamil (integral, konpeherensif, holistik) yang bikin hidup kita lebih hidup...eeh mulia ding.
2. Mendakwahkan
kalau kita sudah mendapat transformasi keilmuan dari murobbi (pementor) maka kita berkewajiban menyampaikan kebenaran Islam pada keluarga dan teman-teman kita, dengan harapan untuk memperbesar atau memperbanyak kebaikan-kebaikan dan memperkecil keburukan-keburukan di masyarakat. Ilmu yang dimandegin cepet ilang. Makannya jangan dinikmati sendiri, kata orang bijak, “ilmu yang tidak diasah mudah tumpul.”
Paradigma kudu dirubah, tugas menyampaikan kebenaran bukan hanya monopoli ulama atau kiyai an-sich, kata para mujahid dakwah, “setiap kita adalah da'i.” makanya sebagai mahasiswa kudu perluas dan bentangkan cakrawala dan tsaqofah Islamiyah kita, jangan sampai dicap mahasiswa yang tulalit (maaf ya). Frend, setiap kata yang keluar dari mulut para penyeru dakwah lebih tinggi dari kalimat-kalimat yang lainnya, itu kata Allah sendiri dalam Al-qur'an. Makanya ada Ulama besar yang mengatakan, “seandainya para raja-raja di dunia ini mengetahui nikmat berdakwah, niscaya mereka akan kerahkan semua pasukannya untuk merebut nikmat dakwah dari para penyeru dakwah.” maka beruntunglah bagi orang-orang yang dipilih oleh Allah SWT sebagai penerus pekerjaan Rasulullah saw. Tapi jalan dakwah itu tidak mulus dan panjang, penuh dengan tanjakan, tikungan dan lubang. Kalau kita tidak sabar dan hati-hati maka akan menjadi pecundang dan 'yang berguguran dijalan dakwah'. Innalilahi. Minimal ketika kita bergabung dengan komunitas perubahan akan mendapat 'bumbu-bumbu dakwah' berupa caci maki, intimidasi, dan teror (dicap eksklusif, sok alim, tidak gaul(?)).
Frend, masih inget sobat Rasulullah saw Mus'ab, itu loh pemuda elit perkotaan yang parlente bin tajir dan ganteng, kalau berpakaian sangat indah dan bajunya selalu harum dengan wewangian kelas bangsawan. Setiap wanita selalu terpesona dengan ketampanannya dan menjadi rebutan para gadis elit perkotaan. Ibunya mengancam dan memboikot tidak akan makan sebelum Mus'ab kembali ke agama moyangnya, tapi apa kata Mus'ab, “seandainya Ibu memiliki seratus nyawa, dan setiap nyawa ibu keluarkan satu-persatu, saya tidak akan meninggalkan agama Muhammad.” mus'ab diusir dari keluarganya, meninggalkan kemewahan dunia dan memilih bergabung dengan gerbong reformasi Rasulullah saw. Makanya kita jangan berkecil hati kalau kita mendapatkan caci maki, celaan karena kita yakin bahwa mereka belum tahu kalau bergabung dengan para penyeru dakwah itu nikmat buaangeeet. Frend, jangan ngomongin agent of change kalau untuk merubah diri sendiri saja belum mampu. Bagaimana mau merubah masyarakat dan negara kalau kitanya sendiri masih bagian dari masalah..nah loh. Makanya tarbiyah dzatiyah (memperbaiki diri) harus terus di jalankan, sehingga kita akan istiqomah dijalan dakwah untuk merampungkan perubahan yang belum tuntas.
3. Sinergi
untuk melakukan perubahan besar tidak bisa dilakukan oleh segelintir orang apalagi sendirian, atau orang-orang yang tak beraturan, tapi dibutuhkan orang-orang yang ikhlas dalam berjuang dan beramal jamai. Ibarat sapu lidi, sapu lidi yang berserakan mudah dipatahkan, tetapi sapu lidi yang digabungkan jadi satu dan diikat dengan tali yang kuat akan menjadi kokoh dan tidak mudah dipatahkan. Begitu juga dengan potensi umat Islam apabila digabungkan menjadi gerakan amal jamai dan di ikat dengan ikatan Allah yang kuat maka cita-cita tegaknya keadilan di dunia dengan syariat Allah sebagai undang-undangnya, dan Islam menjadi soko guru dunia cepat tercapai.
Sudah saatnya ummat ini harus sadar, keuntungan gerakan amal jamai atau bersinergi sangat berdampak luas bagi ummat Islam dunia. Kita tidak akan mendengar lagi seorang pelajar muslimah dilarang untuk menutup auratnya (sampai tulisan ini diketik, ada pelajar muslimah di Jawa Timur harus menanggalkan jilbabnya untuk mengikuti seleksi paskibraka, di Somalia ada sweping jilbab bagi para Muslimahnya oleh pemerintah setempat/Sabili, edisi Mei 2007)...masih ada saja otak-otak error yang melarang muslimah menjalankan kewajibannya. Kita tidak akan mendengar lagi cerita ummat Islam dihinakan, di injak-injak harga diri dan bangsanya, kita tidak akan mendengar lagi jeritan anak-anak Afganistan, Checnya, Irak, Pathani, Palestina. Mereka para agresor dengan enaknya memperkosa masa depan, harga diri dan kehormatan para generasi muslim. Tapi selama ummat ini belum bisa bersatu, maka kita seperti ummat yang digambarkan oleh Rasulullah saw, “ummat Islam seperti hidangan yang diperebutkan oleh ummat lain.” ya, sekarang ummat islam sedang tercabik-cabik dan dihinakan. Ini tugas semua ummat Islam untuk mengembalikan kejayaan islam, dan tentu mahasiswa harus berdiri digarda depan dan menjadi kasalitator dalam melakukan rekayasa sosial dan mengawal ummat ini menuju perubahan dan kemenangan Islam. Ummat menunggu 'Musa-Musa muda' untuk menumbangkan para rezim tirani thogut yang selalu bikin kerusakan dimuka bumi. Wallahu a'lam.
Read more...

Artikel (Gerakan Mahasiswa)

0 komentar

Partisipasi Gerakan Mahasiswa Dalam PILKADA Tangerang

Gerakan mahasiswa kembali di nodai oleh elemen mahasiswa lain (GMNI Tangerang) . Dalam pernyataannya ketua GMNI di koran Tribun mengatakan, “kami mendukung incumbent karena kepemimpinannya diharapkan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kinerja Ismet sudah baik, walaupun masih ada kekurangan.” sebagai mahasiswa, kami sangat menyesalkan sikap politik yang dikedepankan oleh GMNI Tangerang karena sudah terjebak dalam politik pragmatis-oportunis, dimana harga diri dan idealisme sebagai gerakan mahasiswa sudah di gadaikan oleh kepentingan sesaat?. Sikap dukung-mendukung terhadap kekuasaan bukan domain (wilayah) gerakan mahasiswa. Tetapi peran utamanya adalah seperti yang dipostulatkan oleh Hutington, The universal opposition.” seharusnya gerakan mahasiswa tidak melacurkan diri dan berkompromi dengan kekuasaan tetapi tetap istiqomah pada posisinya sebagai kekuatan penekan, penyeimbang dan sosial kontrol.

Realitas politik dan idealisme
fakta reformasi yang telah berjalan 9 tahun, sedikit banyak telah menimbulkan perasaan kecewa bagi sebagian rakyat. Realitas politik yang terjadi dalam proses reformasi tersebut memunculkan sikap skeptis, terutama di kalangan mahasiswa. Mengapa mahasiswa bersikap skeptis? Penyebabnya adalah realitas politik yang bertolak belakang dengan idealisme tentang harapan-harapan akan adanya perubahan mendasar sebagai alternatif perbaikan sistem serta paradigma politik. Polarisasi gerakan mahasiswa sesungguhnya sudah terjadi semenjak lengsernya Soeharto, mulai menampakkan perbedaan sikap pandangnya, perbedaan ini malah menajam menjadi perpecahan dan konflik antar elemen gerakan mahasiswa.
Dalam gejala politik yang terjadi di Tangerang, terkait pada Pilkada Kabupaten Tangerang sinyal-sinyal keberpihakan sebagian elemen mahasiswa pada penguasa merupakan salah satu manifestasi sikap PRAGMATIS mahasiswa dalam pemilihan Calon Bupati Tangerang adalah bergesernya nilai idealisme mahasiswa sebagai sebuah ‘gerakan politik nilai’ menjadi menjadi ‘gerakan politik kekuasaan’, dimana untuk melakukan perubahan dengan cara merebut kekuasaan, bagi yang menganut paham politik kekuasaan, mereka biasanya bekerjasama dengan partai politik untuk mewujudkan cita-citanya. Dukungan mereka pada penguasa biasanya tak jauh dari bagi-bagi kue kekuasaan/jabatan. sikap yang mengarahkan mereka pada kehinaan dengan menceburkan diri sebagai 'pelacur politik'.

Posisi mahasiswa.
Posisi gerakan mahasiswa Tangerang harus netral dan independent. Ia hanya sebagai pemantau dan mengontrol jalannya pemilihan calon Bupati, apakah berjalan secara demokratis atau terjadi praktek-pratek kotor yang diperankan oleh calbup dan para pendukungnya. Dan seandainya hal itu terjadi maka akan menjadi bahan konsumsi mahasiswa untuk melakukan kampanye politik (black campaign), tentang kreteria Calbub yang layak/tidak layak dipilih oleh masyarakat. Untuk itu maka semua elemen gerakan mahasiswa Tangerang harus merapatkan barisan menyusun strategi pemantauan dan pengontrolan untuk mengawal jalannya Pilbub Tangerang agar berjalan dengan demokratis. Menyamakan visi tentang kreteria calbub yang layak dipilih dan yang tidak layak dipilih, serta kreteria pelanggaran kampanye. Dalam pelaksanaannya bukan tidak mungkin visi kreteria terdapat pada salah seorang peserta calbub, ketika calbub tersebut menjunjung tinggi nilai-nilai moral universal seperti gerakan mahasiswa, dan itu bukan berarti suara mahasiswa sudah terbeli atau keberpihakan pada Calbub tertentu, tetapi lebih pada kesamaan visi dengan mahasiswa. Disinilah urgennya konsolidasi gerakan mahasiswa Tangerang untuk merumuskan kreteria calon Bupati yang layak dipilih masyarakat Tangerang, Sehingga tidak akan terjadi kesimpang siuran dan perbedaan pandangan di kalangan mahasiswa.

Partisipasi politik mahasiswa.
Kehadiran gerakan mahasiswa sebagai perpanjangan tangan aspirasi masyarakat, dalam situasi yang demikian itu memang sangat di butuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat. Dalam hal keikutsertaan dan pemantauan pilbub Tangerang peran yang dimainkan oleh gerakan mahasiswa Tangerang seharusnya ‘gerakan politik nilai’ ( value political movement ), gerakan politik nilai adalah gerakan yang berorientasi terciptanya nilai-nilai ideal kebenaran, keadilan, humanisme, profesionalitas dan intelektualitas dalam seluruh aspek pengelolaan pemerintahan. Gerakan politik nilai bersifat independent, tidak berpihak pada partai dan calbub tertentu, karena jika hal itu dilakukan maka fungsi kontrolnya akan hilang. penulis kurang setuju jika ada sekelompok atau beberapa kelompok yang mengatas namakan gerakan atau elemen mahasiswa mendukung calbub tertentu, jika hal ini dilakukan maka, akan menciderai jati diri dan karakter gerakan mahasiswa itu sendiri.
Untuk itu, bentuk partisipasi berupa aktivitas politik yang harus di kedepankan mahasiswa adalah aktivitas pergerakan berupa seminar, dialog terbuka tentang visi dan misi para calbub, kontrak politik, pernyataan sikap, selebaran atau striker berisi seruan moral, demonstrasi dan orasi untuk melakukan pembusukan (black campaign ) terhadap Calbub yang terbukti jelas melakukan praktek-praktek kotor dan curang, biar masyarakat mengetahuinya dan tidak memilihnya. bentuk-bentuk dan frekuensi partisipasi politik dapat dipakai sebagai ukuran untuk menilai stabilitas system politik, integritas kehidupan politik, dan kepuasan atau ketidak puasan rakyat. Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas kepeduliannya yang mendalam terhadap lingkunganya, serta agar dapat lebih berbuat banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup masyarakat.

Sosialisasi.
Sosialisasi politik ialah proses pembentukan sikap dan orientasi politik pada anggota masyarakat, metode sosialisasi dapat berupa pendidikan politik dan indoktrinasi politik. Pendidikan politik melalui suatu proses dialog sehingga masyarakat mengenal nilai norma, dan symbol politik, sedang proses indoktrinasi politik ialah proses sepihak ketika calon bupati menciderai berlangsungnya proses pemilihan dengan melakukan kecurangan, maka dengan memobilisasi masyarakat agar tidak memilih calbub yang sudah dianggap tidak baik dan ideal. Peranan sosialisasi politik gerakan mahasiswa sangat penting karena ia jauh kepentingan kelompok atau partai ( independent ), jujur menyuarakan kepentingan rakyat dan tidak menghendaki rakyat selalu di bodohi terus menerus. Konsekuensinya adalah gerakan mahasiswa akan berhadapan dengan kelompok kepentingan ( kelompok pendukung, centeng, preman, pendekar bayaran dan sebagainya ), seperti ancaman, terror, intimidasi, penculikan. untuk menghindari bentrok fisik dengan mereka, maka gerakan mahasiswa harus berhati-hati dan luwes dalam bergerak. Dan seandainya hal itu tidak terelakan, maka sudah menjadi sunatullah perjuangan. Dan hal itu malah akan semakin menambah semangat juang perlawan yang lebih militan dalam mengawal proses perubahan dan perbaikan masyarakat.
Segala bentuk perlawanan yang dilakukan gerakan mahasiswa lebih merupakan dalam kerangka koreksi atau kontrol atas perilaku-perilaku politik kotor yang di perankan oleh para politikus busuk.
Budaya politik merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat, dengan ciri-ciri yang khas. Penulis berharap dalam proses pemilihan Pilbup Tangerang budaya politik yang di kedepankan adalah budaya politik yang santun, sesuai dengan budaya Banten yang religius. Tidak saling menjegal dan menelikung antar sesama Calbup serta tidak melakukan politik kotor. Budaya politik gaya preman dan pendekar seharusnya tidak dikedepankan oleh para calbub, seperti intimidasi, suap atau sogok, terror terhadap kelompok-kelompok yang tidak sejalan ( baca : Mahasiswa ), jika hal itu menjadi jawaban untuk memuluskan dan menyelesaikan masalah dengan kelompok yang berseberangan, maka yang akan terjadi malah suhu politik yang memanas, kekerasan politik, dan jatuhnya korban yang mestinya tidak terjadi.
Para Calbup semestinya dalam menyusun visi dan misi serta program kerja unggulan bukan hanya sebagai lipstik politik saja, tetapi merupakan kesadaran nurani dan moral serta rasa tanggung jawab untuk turut serta dalam mewujudkan proses perubahan Tangerang yang lebih baik dan maju. Wacana terbentuknya Tangerang Selatan merupakan salah satu cara untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, pembangunan infrastruktur lebih tepat dan cepat, pelayanan terhadap masyarakat lebih mudah. Semoga Calbup Kabupaten tangerang yang terpilih nanti bisa membawa Tangerang selatan menjadi kota percontohan yang mandiri dan bersih, bersih birokrasi, bersih lingkungan, dan lancar transportasi. Jangan sampai dengan terbentuknya kota tangerang selatan menjadikan lahan basah untuk memperkaya diri para pejabat, dengan melanggengkan budaya KKN. Janji-janji para Calbup (calon bupati) dalam kampanye nanti harus menjadi blue print berupa kontrak politik dengan gerakan mahasiswa dan rakyat.
Gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik nilai tidak memperdulikan siapapun nanti yang akan menjadi orang nomer satu di Kabupaten Tangerang Karena siapapun nanti yang akan terpilih akan menjadi sasaran tembak gerakan mahasiswa ketika melakukan penyimpangan dan kezaliman terhadap masyarakat Tangerang. gerakan mahasiswa tidak berkepentingan mendukung seseorang untuk menjadi penguasa, gerakan ini lebih memainkan peran fungsinya sebagai kontrol sosial dan tekanan sosial ( social pressure ) terhadap kekuasaan. Tetapi siapapun penguasa yang otoriter akan berhadapan dengan gerakan mahasiswa dan rakyat. Semoga calon bupati yang terpilih nanti merupakan politikus yang berjiwa reformis dan tidak terlibat dengan dosa-dosa politik masa lalu. Selamat memeriahkan pesta demokrasi dan memilih dengan hati nurani ( bashirah ) Walla hua’lam.
Read more...

cerpen

0 komentar

Menggapai SE…


Bruug…! Kujatuhkan saja tubuhku ke kasur lipat di kosan. Letih rasanya untuk menyelesaikan skripsiku. Betapa tidak, sudah cape-cape nyusun skripsi, dibela-belain begadang sampai jam tiga pagi, eeh…enak-enaknya pak Karta selaku dosen pembimbing skripsiku mencorat-caret lembar-demi lembar halaman, nyaris tanpa beban salah dan dosa, seperti anak kecil yang sedang belajar menggambar.
“kamu BAB IV nya ulang lagi ! metodologi penelitiannya kurang pas, tehnik analisa datanya salah, subyek kurang fokus, hurufnya kurang ketepi, pokoknya semua lembar harus diganti!” pak Karta memberikan masukannya seiring dengan kelesuan yang menghinggapi tubuhku, komentarnya yang menukik semakin menambah kepenatan batok kepalaku. Aku hanya menunduk tidak berani mendongkakkan kepala menatap wajah pak Karta yang di kenal dengan sebutan The Killer Master.
Keringat dingin membanjiri kulit wajahku, ingin rasanya aku muntah tapi tak kuasa karena memang tadi pagi aku tak sempet sarapan. “Terus yang benar seperti apa pak?” sambil mengelap keringat yang menghiasi wajahku kuberanikan juga bertanya.
“Lha, ya tanya sama dosen metodologi penelitian, kalau untuk masalah riset penelitian bukan bidang bapak!”
Uhh! Tambah pening saja kepalaku, berputar-putar, kudapati diriku sedang naik pesawat terbang, kulihat awan-awan gelap, mendung. Yap, seperti mendungnya perjalanan menyelesaikan skripsi… brag! Suara meja ditepuk dengan keras membuyarkan aku dari imajinasi. “Kalau mau tidur bukan disini tempatnya, keluar sana…!” pak Karta menaikkan volume suaranya membuat aku terpental keluar ruangan.
Tembok besar masalah terpampang jelas di depan mata, dosen metodologi penelitian orangnya sulit ditemui, jam terbangnya tinggi, belum lagi sifatnya yang galak, kumisnya seperti pak Raden, plototan matanya bisa memicu andrenalin mahasiswa, satu aliran dengan pak Karta untuk urusan sadisme dan raja tega. Pernah dalam satu kelas nilai mata kuliah metodologi penelitian 50 persen mendapat D, 35 persen mendapat C, sisanya mendapat B. Pokoknya danger bin sereem…
Padahal aku merencanakan target untuk menyelesaikan skripsi sampai bulan september, lebih dari itu? Selamat untuk memperpanjang bimbingan skripsi, dengan membayar SPP bulanan plus dana bimbingan skripsi. Sepertinya gairah untuk menyelesaikan skripsi berhenti ditengah keterputusasaan, semangatku roboh seiring diobrak-abriknya skripsiku oleh dosen pembimbingku. Ya Robbi haruskan aku kalah dalam dinamika perjuangan ini?
Pemuda bangkit tegak bentang cakrawalamu…
Tepiskan kemalasan lepas belenggu dungu…
Suara grup Nasyid Izzatul Islam dari tape recorder ‘butut’ tetangga kos mengganggu istirahat siangku, setelah begadang semalaman merefisi BAB IV yang diobrak-abrik oleh pak Karta kemarin.
“Sepertinya aku harus bangkit dari rasa kemalasan yang meliputi jiwaku, dan aku harus menyelesaikan sekripsi ini,” kataku pada diri sendiri.
**
Kupacu motorku menuju base camp volunteer RZI, untuk rapat koordinasi persiapan MABIT umum relawan sekalian evaluasi organisasi. Di semester akhir ini aku diamanahi sebagai Kabid Kaderisasi, sebuah divisi yang mejadi salah satu tolak ukur keberhasilan organisasi. Padahal aku sudah menolak menjadi kabid, tapi forum memaksanya..!
Jam dua siang ini aku harus sampai di masjid Al-Ikhwan perum 1 Tangerang. Setiap pekan kedua dan keempat diadakan ta’lim, agenda ta'lim merupakan salah satu program divisi kaderisasi, sehingga aku bertanggung jawab penuh terhadap kelancaran acara tersebut, mulai dari mencari ustadz, ijin tempat sampai tema sentral ta'lim. Menjadi aktivis volunteer harus memperhatikan kondisi ruhiyahnya, karena keikhlasan menjadi dasar dalam gerak perjuangan. Kuikuti setiap agenda demi agenda dengan setengah konsentrasi. Pikiranku tertuju pada sosok dosen metodologi penelitian, kapan dan dimana aku harus menemuinya ? Kata para alumni orangnya sulit ditemui dan seandainya bisa janjian harus siapkan mental, karena salah ucap bisa-bisa disuruh keluar ruangan.
Kudapati diriku sedang berjalan di trotoar jalan, “oops...itukan mobilnya pa Raka dosen metodologi penelitian!” kataku dalam hati. “Wah dia menghentikan mobilnya dan melambaikan tangan kearahku, kata temen-teman dia bersedia menjadi konsultan saya. Kubalas dengan lambaian penuh semangat dan senyum merekah. Kepercepat langkah menuju kearahnya. Setelah sampai jarak satu meter, kuserahkan ketikan skripsi BAB IV untuk dimintai bimbingannya, sang dosen malah masuk mobil dan tancap gass...lho,...lho, pak! Kok pergi ? yaaah...!”
“Tetap semangat bahagiakan umat, Allahu Akbar!”
Salam relawan lagi-lagi menyadarkanku dari imajinasi. Ternyata ta'lim umum Relawan sudah selesai, dan menjadi tradisi di komunitas relawan RZI setiap selesai sebuah acara selalu di akhiri dengan salam relawan dan takbir, untuk selalu menjaga semangat biar terus menggelora dan jantung perjuangan tetap hidup.
Hari demi hari imajinasiku yang kian aneh. Sepertinya aku stres berat. Setelah acara ta'lim selesai khusus untuk Kabid masing-masing dilanjutkan dengan agenda rapat Baksos dengan tujuan Tanjung Kait, sebuah desa di pinggiraan pesisir pantai utara Tangerang, yang masih tergolong daerah minus. Dalam rapat tersebut aku dapat tugas berat. Dan tanpa sadar aku menyanggupinya.
Sebuah fenomena yang aku sendiri tidak bisa menjelaskan. Mahasiswa, Aktivis, IP tinggi, lulus cepat, organisasi hebat, adakah sosok seperti itu?
Sepertinya syair nasyid IZZIS menelanjangiku, dan menamparku. Seorang tunas muda harus bisa bangkit tegak dengan membentangkan cakrawala wawasan, dan siap mewarisi peradaban dunia. Dimana pemuda itu? Wahai Faris apakah kamu orangnya?
Cara lain yang bisa aku tempuh adalah mencari mahasiswa di kelas lain yang mata kuliah Metodologi Penelitian dapat A, dengan pendekatan sok kenal. Alhamdulillah, ikhtiarku mendapatkan hasil.
Setelah dapat data nama mahasiswa yang dapat nilai A, aku mencoba untuk beramah tamah, akhirnya aku kenalan sama anak Manajemen kelas VIII C yang lagi skripsi juga. Setelah janjian, ba'da Magrib aku datangi kosannya di Warung Mangga, kota Tangerang. ngobrol banyak, namanya juga PDKT.
Ternyata dia aktivis juga, tapi di ekstra kampus. Sebuah organisasi mahasiswa yang turut andil menggelindingkan roda reformasi dan menumbangkan rezim Orba. Dikenal dengan julukan 'raja demo' atau aktivis parlemen jalanan. Setelah bicara ngalor ngidul akhirnya ia nanyain juga skripsiku. Berharap menawarkan bantuan, kuceritakan tentang kelemahanku di bidang metode penelitian, dengan dosennya yang killer. Hingga muncul ibanya mengetahui kelemahanku, selanjutnya ?
z..z..z...ia tertidur di sampingku, mungkin kelelahan karena tadi pagi sampai sore hari bersama pasukannya turun kemasyarakat memberikan dirrect selling tentang pendidikan politik yang benar terkait dengan PILGUB Banten sebelum, keluar kata-kata “ya sudah nanti saya bantuin metode penelitiannya!”
kalimat pelipurlara itu, ternyata hanya angan khayalanku saja.
Kami sadari jalan ini, kan penuh onak dan duri
aral menghadang dan kezaliman yang akan kami hadapi...
Akhirnya aku menikmati juga alunan syair Izzatul Islam, seakan menjadi inspirasi untuk tetap istikomah di jalur perjuangan ini. Tetap semangat untuk menyelesaikan skripsi.
“Sesungguhnya setiap kesulitan ada kemudahan, dan Allah akan menguji manusia sesuai dengan kesanggupannya, jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” begitu nasehat dari ustadz Lukman, ketika aku curhat tentang masalah yang sedang aku hadapi.
Adakah manusia yang sempurna?
Menjadi mahasiswa yang baik, aktivis yang baik, anak yang baik, bahkan bisa mencari nafkah sendiri? Atau harus memilih dari semua peran itu?
“Menjadi muslim yang lurus, kaffah, dan berwawasan luas. Baik secara aqidah, ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah adalah tujuan tarbiyah kita”, ustadz Lukman menyimpulkan materi sore ini.
Lalu, apakah kesalahan para aktivis selama ini adalah ketidakmampuan mereka menerjemahkan tujuan tersebut? Hingga kadang-kadang menjadikan kesibukan aktivitasnya untuk alasan pembenaran panjangnya waktu kuliah?
Setelah mendapat taujih dari ustadz semangatku kembali pulih, semangat itu mampu mencairkan 'darah' kemalasan yang selama ini menyumbat, dan mengalirkan darah segar keseluruh tubuh, mendetakkan jantung. Dan seakan aku mempunyai segunung azzam untuk menyelessaikan skripsi.
Kucoba mencintai angka, mencintai rumus-rumus, mencintai skripsi, mencintai pak Karta, mencintai buku metodologi penelitian yang bersanding mesra dengan buku-buku manajemen dan pemasaran.
Kutatap komputer yang selama ini aku cuekin, cepat-cepat ku on stabilizer, power di CPU, klik star, dengan winamp murotal surat-surat pilihan, suara Al-hafidz Al-Ghomidhi menyejukkan pikiran dan menentramkan jiwaku, ditemani oleh secangkir kopi capucino. Aku berazzam.
Dalam minggu ini aku harus menyelesaikan semua bab, kalau diterima. Awal bulan Agustus aku mengajukan sidang skripsi.
**
Sidang skripsi? Nggak takut!
Aku menunggu para dosen penguji, di teras ruang F1,1. Tak henti-hentinya aku berzikir dalam hati serta do'a supaya diberi kemudahan dalam sidang nanti. “Robbi sohli sodri wayasirli amri wahlul 'ukdatamillisani yafqohu qouli.” do'a yang diajarkan Nabi Musa ketika akan menyampaikan kalimat kebenaran. Adik-adik kelas yang lewat memberikan suport dan ucapan selamat padaku.
Sudah hampir dua jam aku menunggu pak Karta di teras ini. Perasaan gelisah mulai menghinggapiku. Ya tuhan! Di mana gerangan pak Karta? Andai aku punya alat yang dapat mendeteksi keberadaannya dan dapat meluluhkan kesadisan pak Karta!
Kulangkahkan kaki menuju kantor pendidikan, terlihat Bu Santi, staff TU. “Maaf Mas, pak Kartanya lagi ke Bandung. Pulangnya minggu depan..!”
“Apa.. ?? tidak!! tidak mungkin pak Karta menghilang seminggu! Ku 'tepok-tepok' pipiku, ini cuma imajinasikan? Aku protes kenyataan ini. Kurebahkan kubuh ke kasur lipat di kosan, dunia terasa gelap sekali.
Bertahanlah... istiqomah...
Bertahan dalam berjuang dan tetapkan keyakinan...keadilan pasti...
Tiba-tiba Syair nasyid Izzis terdengar dari tetangga kos, menerobos ke telingaku. Menggedor kesadaranku. Syair itu membuatku tak jadi tidur.
Kupandangi catatan dan data skripsi yang berserakan di lantai. Malam ini kurapikan semua arsip yang merangkum 4 tahun di jurusan Ekonomi Manajemen STIE Muhammadiyah. Aku harus menunjukan pada dunia bahwa aktivis bisa menyelesaikan masa kuliah dengan tepat waktu. Bisa meraih SE dengan bangga..!!
BSD City, 18 April 2007
Read more...

sastra

0 komentar


Kau Cinta Sejati-ku (wahai…Relawan RZI)
Aku mencintaimu,
bukan hanya demi adamu, tetapi juga demi adaku, waktu aku bersamamu.
Aku mencintaimu,
bukan hanya karena apa yang telah engkau lakukan untuk dirimu,
tetapi juga karena apa yang sedang engkau lakukan untuk diriku.
Aku mencintaimu,
karena bagian dari diriku yang engkau tarik keluar.
Aku mencintaimu,
karena meletakkan tanganmu dalam hatiku yang tertimbun2,
dan mengabaikan segala hal yang bodoh, lemah yang terpaksa kaulihat
secara samar2 di sana, dan karena membawaku ke dalam cahaya.
Semua milik yang indah yang tak dilihat oleh seorangpun,
amat cukup jauh untuk ditemukan.
Aku mencintaimu, karena engkau membantuku untuk membuat dengan susah
payah hidupku, bukan untuk menjadi kedai minuman, tetapi sebuah
bangunan indah.
Aku mencintaimu, karena engkau membantuku dari pekerjaan sehari2ku,
menjadi sebuah nyanyian megah, bukannya cercaan dan celaan.
Aku mencintaimu, karena engkau telah berbuat untuk membuatku baik,
melebihi nasib apapun, telah berbuat untuk membuatku bahagia.
Aku mencintaimu ....
Yang kita butuhkan hanya sedikit cinta dan pengertian. Bukan egoisme, nafsu amarah yang akan membuat rumah kita tersekat, pengap …
Aku mencintaimu, karena engkau ikhlas menjadi mitraku dalam membuat rumah peradaban hakiki, sabar dalam mendampingiku menggayuh perahu rumah kita…
Aku mencintaimu…karena kau adalah masa depan untuk melahirkan tunas-tunas yang berkualitas, tunas baru yang taat pada-Nya.
Aku mencintaimu, walau jarak kita terpisah…kau disana dan aku disini,
Tapi jiwaku terbalut dalam do’a panjang, tentang kesetiaan, ketaatan, dan cinta yang mendalam.
Aku mencintaimu karena kau adalah lambang pengorbanan dalam keikhlasan untuk terus mengabdi di jalan ini.
Aku mencintaimu karena kau adalah bagian dari kehidupanku dalam membaur diantara nyanyian mustahiq-mustahiq yang malang…butuh pertolongan
Aku mencintaimu, karena kau rela menyeka dengan lembut luka diantara hati-hati yang tersayat oleh kemalangan kehidupan.
Aku menvintaimu, karena kau adalah pengobat derita bagi si papa yang termiskinkan.
Aku mencintaimu karena kau peduli dengan nasib orang-orang yang terpinggirkan.
Kau cintaku…(Wahai Relawan RZI)
Kau cinta sejatiku…
BSD City-serpong Utara
Ahad, 21 Rajab 1428 / 5 Juli 2007 M
Pk. 23.05 (dalam penyelesaian konflik dengan tangerang)u
Read more...
Minggu, 18 November 2007

Muhasabah Harian

0 komentar

Muhasabah Harian Seorang Muslim

1. Apakah anda setiap hari selalu sholat Shubuh berjamaah dimasjid? (bagi ikhwan).

2. Apakah anda selalu menjaga shalat yang 5 waktu berjamaah di masjid ? (bagi ikhwan).

3. Apakah anda hari ini membaca Al-Qur’an?

4. Apakah anda rutin membaca dzikir setelah selesai melaksanakan shalat wajib?

5. Apakah anda selalu menjaga sholat sunnah rawatib sebelum dan sesudah sholat wajib?

6. Apakah anda hari ini khusu’ dalam sholat, menghayati apa yang anda baca?

7. Apakah anda hari ini mengingat mati dan kubur?

8. Apakah anda hari mengingat hari kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya ?

9. Apakah anda telah memohon kepada Allah sebanyak 3 kali agar dimasukkan ke dalam syurga ?

10. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah sebanyak 3 kali agar diselamatkan dari api neraka? Karena : “Barang siapa yang memohon syurga kepada Allah sebanyak 3 kali, syurga berkata, “Wahai Allah! Masukkanlah ia ke dalam syurga”, dan barang siapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak 3 kali, Neraka berkata, “Wahai Allah .

11. Apakah anda hari ini membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

12. Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman – teman yang tidak baik ?

13. Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau ?

14. Apakah anda hari ini menangis karena takut kepada Allah ?

15. Apakah anda selalu membaca dzikir pagi dan sore hari ?

16. Apakah anda hari ini telah memohon ampun kepada Allah atas dosa – dosa yang telah anda perbuat?

17. Apakah anda telah memohon kepada Allah dengan benar untuk mati syahid ? karena Rasulullah ‘alaihi Wa Sallam bersabda : “Barang siapa yang memohon kepada Allah dengan benar untuk mati syahid, maka Allah akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal diatas tempat tidurnya.” (HR. Muslim)

18. Apakah anda telah berdoa kepada Allah agar ia menetapkan hari anda di atas agama – Nya ?

19. Apakah anda mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah di waktu – waktu yang mustajab ?

20. Apakah anda telah membeli buku – buku islam untuk memahami islam? (tentu dengan memilih buku – buku yang sesuai dengan pemahaman yang diikuit oleh para sahabat nabi, Karena banyak juga buku – buku islam yang tersebar dipasaran justru merusak pemahaman islam yang benar).

21. Apakah anda memintakan ampun kepada Allah untuk saudara – saudara mukminin dan mukminah ? karena dengan mendo’akan mereka anda mendapat kebaikan pula. ( Sahih Al–Jami’ No.5902)

22. Apakah anda telah memuji Allah dan bersyukur kepada – Nya Atas nikmat Islam?

23. Apakah anda telah memuji Allah dan bersyukur kepada – Nya atas nikmat mata, telanga, hati dan segala nikmat lainnya ?

24. Apakah hari ini anda telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan ?

25. Apakah anda dapat menahan amarah yang disebabkan karena urusan pribadi dan berusaha untuk Allah semata ?

26. Apakah anda telah berusaha untuk selalu menjauhkan diri dari sikap sombong dan membanggakan diri ?

27. Apakah anda telah mengunjungi saudara - saudara seiman dan seagama ( ikhlas karena Allah semata) ?

28. Apakah anda telah berdakwah untuk kelurga, saudara-saudara, tetangga dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda ?

29. Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua ?

30. Apakah anda selalu mengucapkan “Innaa Lillahi wa Inna Illahi Raaji’uun – Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada – Nya” jika anda mendapat musibah dari Allah? Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Hendaklah masing – masing kalian melakukan istirja” (mengucapkan Inna Lillahi Wa Inna Lillahi Raaji’un) pada setiap hal meskipun ketika tali sandalnya putus karena hal itu termasuk musibah,” (Hadits hasan, lihat Shahih Al – Kalimut Thayyib No. 140)

31. Apakah anda hari mengucapkan do’a ; “Allahumma inni A’uudzubika an Usyrikabika wa Anaa A’lam wa Astaghfiruka Lima Laa A’lam – Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahui dan aku memohon ampunan-Mu terhadap apa–apa yang tidak aku ketahui,” (Shahih Al-Jami’ No. 3625). Barang siapa yang mengucapkannya maka Allah akan menjauhkan darinya dari syirik besar dan syirik kecil.

32. Apakah anda selalu berbuat baik kepada tetangga ?

33. Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasud dan dengki ?

34. Apakah anda telah membersihkan lisan anda dari perkataan dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata yang tidak ada manfaatnya ?

35. Apakah anda selalu takut kepada Allah dalam hal penghasilan, makanan, minuman dan pakaian?

36. Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar – benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan ?

37. “ Akhi muslim, jawablah pertanyaan – pertanyaan di atas dengan perbuatan nyata, agar engkau mendapat ridla Allah dan menjadi orang – orang yang beruntung di dunia dan di akhirat, Insya Allah.”

Sumber :

- Zaadul Muslim Al-Yaumi, Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah.

- Al-Qabru ‘Adzaabuhu wa Na’iimuhu, Syaikh Husain Al-‘Awaisyah.

Read more...

Entri Populer

 
News & Artikel Abu Hylmi © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here